Terbentuknya Masyarakat Indonesia Yang Merupakan Kajian Sistem Budaya

Terbentuknya Masyarakat Indonesia Yang Merupakan Kajian Sistem Budaya

 

Proses terbentuknya masyarakat Indonesia ini merupakan bagian dari kajian sistem budaya Indonesia yang memiliki lokus masyarakat Indonesia. Apakah masyarakat itu? Masyarakat dapat didefinisikan sebagai kumpulan individu dan lembaga yang terorganisir, yang dibatasi oleh satu wilayah yang sama, yang merupakan subyek dari satu otoritas politik, dan terorganisasikan sedemikian rupa melalui nilai-nilai serta cita-cita bersama.

 

Terbentuknya Masyarakat Indonesia Yang Merupakan Kajian Sistem Budaya

Terbentuknya Masyarakat Indonesia Yang Merupakan Kajian Sistem Budaya

 

Menurut Kimmel and Aronson, maksud dari kumpulan individu dan lembaga yang yang terorganisir adalah, masyarakat bukan merupakan kumpulan acak melainkan kumpulan yang sengaja dibentuk serta diorganisir. Masyarakat tidak hanya terdiri atas individu, melainkan juga lembaga-lembaga seperti keluarga, agama, pendidikan, atau perekonomian. Masyarakat dibatasi oleh satu wilayah yang sama, yang berarti masyarakat sungguh-sungguh menempati suatu tempat, memiliki eksistensi nyata, bukan sebuah gagasan imajinatif. Potret Indonesia

Masyarakat juga harus merupakan subyek otoritas politik yang sama, yang bermakna setiap orang di satu lokasi tertentu tersebut (masyarakat) agar dapat disebut satu kesatuan, setiapnya harus merupakan subyek dari peraturan (regulasi) yang sama. Sementara itu, kumpulan individu yang terorganisir tersebut memiliki cita-cita serta nilai-nilai bersama bermakna bahwa setiap anggota masyarakat mengakui dan mempraktekkan nilai-nilai konsensual serupa sekaligus memiliki cita-cita ataupun tujuan hidup yang secara umum juga serupa.

Masih menurut Kimmel and Aronson, masyarakat tidak sekonyong-konyong ada. Masyarakat sengaja diciptakan baik melalui metode bottom-up maupun up-to-bottom. Individu-individu dan lembaga-lembaga di dalam masyarakat saling berinteraksi satu sama lain yang menyebabkan masyarakat juga dikatakan sebagai sekumpulan interaksi sosial yang terstruktur.

Terstruktur mengartikan bahwa setiap tindakan individu ketika berinteraksi dengan sesamanya tidaklah terjadi bergerak di ruang vakum karena terjadi dalam konteks sosial. Misalnya, interaksi tersebut berlangsung di dalam komunitas keluarga, kelompok keagamaan, hingga negara. Masing-masing konteks membutuhkan perilaku yang spesifik, berbeda-beda. Namun, keseluruhan interaksi tersebut diikat oleh norma serta dimotivasi oleh nilai-nilai yang diakui secara bersama. Kata sosial mengacu pada fakta bahwa tidak ada individu dalam masyarakat yang hidup sendiri. Individu selalu hidup di dalam keluarga, kelompok, dan jaringan. Kata interaksi mengacu pada cara berperilaku disaat berhubungan dengan orang lain. Akhirnya, dapat dikatan bahwa masyarakat diikat melalui struktur sosial.

Perilaku hubungan ini berbeda antara masyarakat satu dengan masyarakat lain. Konsep-konsep yang juga terkandung di dalam masyarakat – selain yang sudah disebutkan – adalah sosialisasi, peran, status, kelompok, jaringan, organisasi, dan lembaga.

Berdasarkan definisi seperti dikemukakan Kimmel and Aronson, Indonesia merupakan sebuah masyarakat. Kumpulan individu yang ada di 33 provinsi di Indonesia adalah masyarakat Indonesia. Mereka ini terorganisir melalui struktur-struktur sosial yang dikembangkan baik oleh komunitas-komunitas adat setempat, pemerintah lokal, juga pemerintah pusat. Di masing-masing wilayah, terdapat lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bervariasi, yang berkisar pada lembaga keluarga, pendidikan, ekonomi, atau agama.

Batasan antara masyarakat Indonesia dengan Timor Leste (misalnya) jelas dan spesifik dan bahkan dilegalisasi oleh hukum internasional. Setiap individu di dalam wilayah Indonesia tunduk pada regulasi dari pemerintah pusat maupun pemerintah lokal di masing-masing wilayah. Pengharapan-pengharapan serta nilai-nilai bersama telah dikembangkan dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (UUD 1945) yang sifatnya mengikat, sementara nilai-nilai bersama Indonesia dikodifikasi dalam bingkai Pancasila.

Pandangan yang lebih sistemik atas konsep masyarakat Indonesia tentu harus dianalisis lebih lanjut. Masyarakat Indonesia adalah sebuah konsep yang sangat luas dan sangat tidak sederhana. Indonesia awalnya adalah sebuah konsep yang sengaja diciptakan. Secara kuantitatif, masyarakat Indonesia terbentuk atas sub-sub masyarakat (masyarakat di masing-masing daerah). Secara kualitatif, konsep Indonesia merupakan peleburan interaksi dari masyarakat-masyarakat daerah, yang meliputi garis ras, etnis, dan agama. Sebelum Indonesia terbentuk, di setiap wilayah yang kini masuk ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan telah mengembangkan konsep sendiri-sendiri mengenai masyarakat politiknya. Penggabungan masyarakat-masyarakat ini ke dalam konsepsi masyarakat Indonesia jelas bukan hal mudah. Proses kuantitatif (pemekaran wilayah) dan kualitatifnya (integrasi masyarakat) masih berlangsung hingga saat tulisan ini dibuat.

 

Genealogi Masyarakat Indonesia

 

Kajian sistem budaya Indonesia tidak akan lengkap tanpa sebelumnya terlebih dahulu dibahas garis besar mengenai genealogi konsep Indonesia. Kajian dititikberatkan pada aspek genealogi istilah Indonesia, ditinjau dari faktor-faktor geografis, demografis, sosiologis, dan politis negara ini. Selain itu, perlu pula dicarikan definisi yang memadai seputar ras dan etnik untuk memudahkan analisis seputar kemunculan budaya dari orang-orang yang disebut Indonesia. Untuk keperluan analisis atas genealogi masyarakat Indonesia ini ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu konsep-konsep ras, etnis, dan nasionalisme.

Ras. Definisi ras (race) adalah sistem simbol dan kepercayaan yang menekankan pada relevansi karakteristik-karakteristik sosial dan budaya berdasarkan aspek biologis. Definisi lain dari ras adalah “ … kategori yang dikonstruksi secara sosial mengenai orang-orang yang punya sifat-sifat yang diturunkan secara biologis yang oleh para anggota suatu masyarakat dinilai sebagai penting.” Orang biasa membedakan ras berdasarkan karakteristik biologis seperti warna kulit, bentuk wajah, bentuk rambut, dan atau bentuk tubuh.

Masyarakat Amerika Serikat cenderung memisahkan ras menjadi white, black, asia, atau hispanik. Masyarakat di Brasil cenderung memisahkannya menjadi branca (kulit putih), parda (kulit coklat), morena (brunette), mulata (mulato), preta (kulit hitam), dan amarela (kulit kuning). Namun, cara pandang antar ras pun berbeda.

Orang berkulit putih di Amerika Serikat cenderung melihat orang kulit hitam memiliki warna kulit yang lebih gelap ketimbang orang kulit hitam yang satu memandang orang kulit hitam lain. Dengan demikian, ras dapat dikatakan sebagai konsep yang dikonstruksi secara sosial ketimbang murni bersifat biologis, kendati determinisme biologis ini kerap dijadikan acuan utama cara pandang mengenai ras.

Ras, sebagai alat analisis, sesungguhnya bersifat delutif’ karena sifat-sifat obyektifnya bisa mengecoh, akibat hanya didasarkan atas karakteristik-karakteristik fisik seorang individu.

Delusi akibat konsep ras muncul misalnya tatkala seorang lelaki kulit putih melakukan perkawinan dengan perempuan kulit hitam dan mempunyai anak. Anak mereka lalu melakukan perkawinan dengan seorang Asia (Cina, misalnya). Lalu, anak dari anak mereka ini (cucu) melakukan perkawinan dengan seorang parda di Brasil. Bagaimana menentukan ras anak dari cucu mereka tersebut?

Penilaian berlebih (juga delutif) atas ras mendorong munculnya tindak diskriminasi, terutama di negara-negara yang salah satu ras-nya menjadi mayoritas terhadap ras lain yang minoritas: Rasisme! Kendati demikian, kajian atas masalah ras tidaklah berhenti. Ras masih sering digunakan dalam melakukan kategorisasi sosial suatu populasi berdasarkan sifat-sifat turunan. Sejalan dengan masalah ras ini, penulis akan memperlihatkan genealogi ras dari penduduk Indonesia yang sesungguhnya mencerminkan efek delutif dari konsep ras terhadap analisis atas kategori sosial.

Etnis. Jika ras dikonstruksi secara biologi, maka etnis dikonstruksi secara sosial. Etnis adalah kategorisasi sosial berdasarkan bahasa dasar, agama, kebangsaan, dan gagasan kepemilikan budaya bersama. Dengan demikian, etnis lebih merujuk pada karakteristik suatu kelompok sosial yang didasarkan pada identitas bersama. Identitas bersama tersebut dapat berakar pada budaya, sejarah, agama, maupun tradisi bersama.

Ras dan etnis adalah dua konsep berbeda. Konsep etnis bergerak dalam alur determinisme sosial, sementara konsep ras bergerak dalam alur determinisme biologis. Dalam konsep etnis, dapat saja suatu etnis minoritas melakukan asimilasi terhadap budaya etnis mayoritas sehingga etnis minoritas tersebut mengalami pembauran menjadi etnis tunggal. Namun, dalam konsep ras, karena determinisme-nya biologi, proses asimilasi tersebut sukar dilakukan kecuali melalui proses evolusi yang mengakibatkan ciri-ciri fisik sekelompok orang menjadi sama dengan ciri-ciri fisik kelompok lainnya. Konsep etnis bersifat lebih longgar ketimbang ras karena sifat sosialnya ini. Penulis akan memperlihatkan etnis-etnis yang ada di Indonesia, yang ternyata sangat beragam tetapi ternyata memiliki sejumlah kesamaan secara parsial.

Minoritas. Minoritas didefinisikan sebagai kategori manusia yang dibedakan menurut perbedaan fisik atau budaya yang dianggap oleh suatu masyarakat lain sebagai terpisah ataupun subordinat. Seperti dikatakan oleh definisi, minoritas bisa didasarkan pada aspek fisik dan budaya ataupun gabungan antara keduanya. Minoritas punya dua karakteristik, yaitu : (1) mereka saling berbagi identitas unik, yang bisa saja didasarkan atas ciri budaya ataupun fisik, dan (2) minoritas selalu mengalami subordinasi oleh kelompok lain yang lebih dominan (mayoritas).

Hubungan minoritas dan mayoritas di Indonesia tidak selalu berjalan harmonis. Persoalan kemudian terletak pada interaksi-simbolik yang terbangun antara kelompok minoritas dan mayoritas serta prejudis-prejudis (termasuk stereotip-stereotip) yang muncul dan membayangi hubungan yang muncul antara keduanya. Pola-pola hubungan minoritas-mayoritas berbeda-beda di tiap provinsi Indonesia bergantung pada kuantitas masing-masing etnis, jenis etnis yang berhubungan, serta kondisi-kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang melingkupi. Hal ini menjelaskan mengapa hubungan antara minoritas-mayoritas di provinsi Indonesia yang satu berbeda dengan hubungan di provinsi lainnya.

Nasionalisme. Nasionalisme adalah konsep yang mengkombinasikan perasaan identifikasi dengan orang, ideologi (yang menjelaskan kesamaan sejarah dan nasib), serta gerakan sosial (yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama berdasarkan ideologi). Nasionalisme kerap bertumpang-tindih dengan konsep ras dan etnis. Hitler, misalnya, membangun nasionalisme Jerman berdasarkan ras, yaitu ras Arya. Etnis Tamil di Srilangka berupaya mendirikan kebangsaan sendiri berdasarkan etnis Tamil karena merasa diopresi oleh Sinhala, etnis mayoritasnya. Aceh, di Indonesia, oleh kelompok Gerakan Aceh Merdeka-nya (dahulu) berupaya memerdekakan diri dari Republik Indonesia berdasarkan etnis Aceh akibat ketimpangan ekonomi, Belgia membangun negaranya berdasarkan dua bangsa: Belanda dan Perancis, atau etnis Catalan dan Basque di Spanyol terus terlibat dalam hubungan yang rumit dalam menyepakati nasionalisme Spanyol.

Berbeda dengan konsep ras dan etnis, konsep nasionalisme memiliki prasyarat ideologi, gerakan sosial, dan gerakan politik. Nasionalisme, dengan demikian dapat saja mendasarkan diri pada konsep ras ataupun etnis. Indonesia adalah contoh dari nasionalisme ini. Etnis-etnis, ras-ras, yang mengalami penjajahan Belanda di sekujur kepulauan Hindia, secara politik dinyatakan memiliki nasib yang sama dan sebab itu, secara ideologis merupakan satu bangsa seperti bunyi Soempah Pemoeda 1928 yaitu: (1) Berbangsa Satoe, Bangsa Indonesia; (2) Bertanah Air Satoe, Tanah Air Indonesia; dan (3) Berbahasa Satoe, Bahasa Indonesia. Ketiga sumpah ini adalah sumpah nasionalisme, wujud dari gerakan politik dalam menentang kekuasaan kerajaan Belanda atas wilayah-wilayah disekujur kepulauan Hindia. Sumpah politik tersebut sekaligus mengatasi perbedaan garis etnis, agama, dan ras yang tersebar di antara elemen-elemen bangsa Indonesia.

Moyang Masyarakat Indonesia

Penyebutan Indonesia pada tulisan ini mengacu pada wilayah yang kini termasuk ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah ini, sebelumnya masuk ke dalam kolonial Belanda. Gugusan kepulauan berikut penduduk yang menempatinya merupakan genius lokal yang berhasil mengakulturisasi dan mensinkretisasi aneka jenis budaya luar yang datang menghampirinya.

Tidak kurang budaya-budaya Hindu-Buddha, Islam, Timur Jauh, dan tentunya Barat (Portugis, Belanda, Inggris) datang dan meninggalkan bekas, untuk kemudian perpaduannya dengan budaya lokal diakui sebagai bagian dari budaya Indonesia. Kendati masing-masing budaya luar tersebut berbeda dalam tingkat pengaruhnya, masyarakat kepulauan Indonesia berhasil meracik dan dianggap sebagai bagian budaya Indonesia sendiri. Hal ini akan kita perlihatkan dalam pembahasan-pembahasan kemudian.

Terlebih dahulu akan dilakukan penekanan pada dinamika saling pengaruh antara budaya lokal dengan budaya yang datang dari luar kepulauan nusantara. Sebab itu, menjadi suatu keharusan untuk menjelaskan seperti apa bentuk-bentuk budaya lokal yang dianut penduduk Indonesia. Ini penting dilakukan demi keperluan analisis seputar pengaruh yang diberikan budaya luar atas Indonesia. Namun, tentu dibutuhkan literatur yang besar bahkan penelitian tersendiri guna mendeskripsikan seperti apa bentuk budaya yang lokal Indonesia. Kajian ini agak sulit mengingat penduduk Indonesia sendiri berkembang melalui sejumlah migrasi penduduk dari wilayah selatan Cina. Termasuk ke dalamnya tidak diketahui batasan pasti mengenai kapan penduduk lokal Indonesia memulai kontak dengan kebudayaan luar.

Kesulitan mengenai batasan antara mana yang disebut penduduk asli Indonesia dengan yang bukan juga dialami Bernard H. M. Vlekke. Sejarawan Belanda itu menyebutkan alasan bahwa akibat kepulauan Indonesia terletak di jalur laut utama antara Asia bagian timur dan selatan maka dengan sendirinya bisa diperkirakan akan terdapat populasi yang terdiri atas beragam ras. Jika kajian Vlekke dijadikan sebagai titik pijak, maka dapat diasumsikan akan terjadi percampuran ras di antara moyang Indonesia.

Moyang atau nenek moyang

pengertian awam yang merujuk pada konsep genealogi manusia yang terlebih dahulu dilanjutkan dengan yang muncul di masa kemudian. Mengenai moyang manusia Indonesia ini, Koentjaraningrat menyebut sekurangnya 1 juta-an tahun lampau, sudah ada Pithecanthropus Erectus yang hidup di lembah sungai Bengawan Solo. Makhluk sejenis dengan Pithecanthropus Erectus ini juga ditemukan di gua-gua dekat Peking (Cina) dan wilayah Asia Timur.

Teori dari Sarasin bersaudara (Paul dan Fritz Sarasin) menyebutkan bahwa populasi asli Indonesia adalah ras berkulit gelap serta bertubuh kecil dan keturunan dari ras asli ini disebut orang Vedda. Koentjaraningrat menyebut orang Vedda memiliki persamaan dengan penduduk asli Australia (Aborigin) sehingga menyebutnya sebagai Austro-Melanosoid. Penamaan Vedda diambil dari salah satu suku yang terkenal di Srilanka. Termasuk ke dalam ras ini adalah suku Hieng di Kamboja, Miao-tse dan Yao-jen di Cina, Senoi di Semenanjung Malaya, Kubu, Lubu, dan Mamak di Sumatera, serta Toala di Sulawesi.

Ras ini awalnya mendiami wilayah Asia bagian tenggara yang saat itu masih bersatu sebagai satu daratan di dalam periode Glasial (zaman es). Di akhir periode Glasial, es mencair dan mengakibatkan permukaan laut naik. Hasil lelehan es ini menciptakan Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Kedua laut ini memisahkan pegunungan vulkanik Indonesia dari daratan utama Asia. Penduduk asli (yang berkulit gelap tadi) tinggal di wilayah pedalaman, sementara wilayah pesisir dihuni oleh kaum pendatang. Kaum pendatang ini akan dibahas lebih lanjut oleh paragraf-paragraf di bawah.

Orang Vedda atau Austro-Melanosoid ini kemudian menyebar ke Timur dan mendiami Papua, Sulawesi Selatan, Kai, Flores Barat, Timor Barat, Seram – sebelum es periode Glasial mencair – dan terus ke timur dan mendiami Kepulauan Melanesia. Sebagian dari mereka menyebar ke Barat dan menghuni pulau Sumatera. Di Sumatera ini mereka mengembangkan perkakas berupa kapak genggam. Mereka juga suka memakan kerang yang dibuktikan lewat tumpukan fosil kulit kerang di dekat Medan Sumatera Utara, dekat Langsa (Aceh), Perak, Kedah, dan Pahang di wilayah Semenanjung Malaysia.

Selain di Sumatera, bukti penggunaan kapak genggam juga ditemukan di gua-gua Jawa semisal Gua Sodong (Besuki), Gua Petruruh (Tulungagung), Gua Sampung (Ponorogo) bahkan hingga Vietnam Utara. Sebab itu, Koentjaraningrat mengajukan pendapat bahwa telah terjadi perpindahan penduduk Austro-Melanosoid dari timur ke barat, dari Jawa menuju Sumatera, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, hingga Vietnam Utara. Melalui perpindahan ini dimungkinkan terjadinya percampuran antara ras Austro-Melanosoid dengan Mongoloid.

 

Sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/