Ridwan Kamil di IPB : Era Digitalisasi Harus Dihadapi dengan Bijak

Ridwan Kamil di IPB : Era Digitalisasi Harus Dihadapi dengan Bijak

Ridwan Kamil di IPB Era Digitalisasi Harus Dihadapi dengan Bijak

Ridwan Kamil di IPB Era Digitalisasi Harus Dihadapi dengan Bijak

Era digitalisasi saat ini menuntut masyarakat untuk cerdas dalam memilih informasi.

Selain itu, masyarakat juga dituntut untuk mampu berkompetisi. Jika para pemuda, dalam hal ini mahasiwa, hanya mencukupkan diri untuk belajar di perkuliahan saja tanpa mempunyai extra value, maka hal itutidak akan cukup dalam bersaing di era digitalisasi ini.

Hal ini disampaikan oleh Ridwan Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat, dalam Studium Generale Leadership in the Digital Era yang digelar Direktorat Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir Institut Pertanian Bogor (IPB), di Auditorium Common Class Room (CCR), Kampus IPB Dramaga, Bogor, Sabtu (6/10/2018).

Ridwan menuturkan bahwa IPB harus menaikkan kualitas mahasiswanya seperti kemampuan berbahasa Inggris agar bisa bersaing di dunia internasional. Dalam kuliahnya tersebut, Ridwan terlihat sangat santai dan humoris, beberapa kali peserta tertawa karena pembawaan materi yang begitu santai dan mudah diterima.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Emil ini, selain memiliki berbagai kemudahan, e

ra digitalisasi tentunya memiliki sisi gelap yang harus disikapi dengan bijaksana.

”Yang pertama yaitu ekstrim. Setiap hari manusia memegang gadget setidaknya empat jam per hari. Apa yang dibaca orang Indonesia? Kebanyakan adalah kesia-siaan. Makanya saya sedang mencoba program dakwah digital di Jawa Barat, saya meminta para ulama untuk mengisi postingan-postingan untuk melawan kesia-siaan tersebut. Kenapa ini disebut ekstrim? Seperti halnya kendaraan, semua orang bisa menyetir tetapi tidak semua bisa mengendalikannya,” katanya.

Yang kedua adalah berbahaya. Sekarang ini berita hoax ada bisnisnya,

karena kita tidak terbiasa untuk tabayyun, dan itu diviralkan dengan digital.

“Saya kasih tips cara membedakan berita hoax, yaitu sebelum berita itu masuk ke portal berita online yang terpercaya, maka bisa dipastikan berita itu belum terverifikasi. Jangan mudah untuk men-share atau mem-forward,” katanya.

Era digitalisasi juga bisa menghilangkan sisi kemanusiaan. Seperti misalnya, tidak bersegera menolong korban kecelakaan, tetapi memilih untuk mem-foto dan men-share terlebih dahulu ke media sosial.

Sebagai seorang pemimpin, Kang Emil menyampaikan bahwa kemajuan teknologi dan era digitalisasi ini sudah seharusnya disikapi dengan baik. Seperti misalnya, memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk menampung aspirasi masyarakat. “Saya mempunyai platform dalam menggunakan media sosial. Saya gunakan instagram untuk memposting kegiatan, memunculkan sisi kemanusiawian bahwa saya pun sama dengan followers saya, mengedukasi, dan juga mengklarifikasi,” ujarnya.

Dalam menghadapi “the new era industry 4.0”, Kang Emil menuturkan bahwa digital knowledge harus bisa menyentuh semua lini.

“Saya menantang IPB untuk bisa memajukan pertanian lewat digital. Misalnya menjual beras lewat aplikasi. Saya akan latih itu petani-petani bagaimana caranya menjual beras secara online. Inilah revolusi digital lima tahun ke depan untuk mensejahterakan para petani,” katanya.

Menurut Gubernur yang berasal dari Bandung ini, Indonesia ditargetkan menjadi negara terhebat nomor tiga di dunia pada tahun 2045. Dalam meraih hal ini, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu ekonomi Indonesia tidak boleh turun dari lima persen, generasi millenial harus kompetitif, dan demokrasi di Indonesia harus berjalan dengan kondusif.

Ia juga menyampaikan bahwa kepemimpinan yang dibutuhkan di era digital ini adalah kepemimpinan yang revolusioner, berani mengambil risiko, inovatif, agent of change, dan problem solver.

 

Baca Juga :