Retinopati Prematuritas: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Retinopati Prematuritas: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Kelahiran prematur menyebabkan bayi rentan mengalami sejumlah kasus kesehatan. Salah satu dari kasus kesehatan yang dimaksud adalah retinopati prematuritas. Kondisi ini kalau tidak langsung ditangani bisa menyebabkan kebutaan. Lantas, apa itu retinopati prematuritas?

Apa Itu Retinopati Prematuritas?
Retinopati prematuritas adalah suatu penyakit mata yang menyerang bayi yang terlahir secara prematur dengan berat 1,25 kilogram atau di bawahnya (semakin mudah bobot tubuh, tambah besar risikonya). Retinopati prematuritas atau Retinopathy of prematurity (ROP) kebanyakan terjadi di ke-2 mata. Penyakit ini dipicu oleh ada kasus pada pembuluh darah mata selama berada di di dalam kandungan.

Akibat pembuluh darah terbentuk secara abnormal, perihal ini kemudian berdampak pada tidak lancarnya aliran oksigen menuju mata. Padahal, oksigen benar-benar dibutuhkan untuk tumbuh kembang mata. Alhasil, muncullah penyakit ROP tersebut.

Seberapa Umum Kasus Retinopati Prematuritas?
Laporan dari The National Eye Institute menuturkan bahwa dari total 3,9 juta bayi yang terlahir secara prematur setiap tahunnya di Amerika Serikat, sekitar 14-16 ribu di antaranya didiagnosis mengidap retinopati prematuritas. Akan tetapi, lebih dari satu besar tergolong ke di dalam ROP ringan.

Fakta ini menyebabkan para orang tua bisa bernapas lega dikarenakan wajib diketahui, ROP di dalam skala mudah cenderung tidak berbahaya dan apalagi bisa pulih dengan sendirinya tanpa membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Kendati demikian, fakta bahwa ada sekitar 1,100-1,500 bayi lainnya yang mengalami ROP stadium tinggi termasuk tidak bisa dianggap sebelah mata. Oleh dikarenakan itu, para orang tua yang kebetulan melahirkan bayinya secara prematur wajib melakukan penanganan medis sedini kemungkinan guna meminimalisir risiko sang buah hati menderita ROP yang lebih serius.

Ciri dan Gejala Retinopati Prematuritas
Retinopati prematuritas idealnya membutuhkan pemeriksaan tertentu pada mata untuk mendeteksi gejala-gejalanya. Pemeriksaan berikut wajar dilaksanakan pada bayi yang lahir secara prematur di mana pastinya berpotensi mengidap ROP tersebut.

Bayi kemungkinan besar ROP sekiranya pas pemeriksaan ditemukan ciri-ciri sebagai berikut:

Pupil berwarna putih
Mata juling
Gerakan mata tidak wajar
Pembengkakan pembuluh darah mata
Pembuluh darah mata pecah
Penyebab Retinopati Prematuritas
Penyebab retinopati prematuritas adalah ada abnormalitas pada pembuluh darah mata yang mana pembuluh darah berikut kemudian menyebar ke penjuru retina. Sifat pembuluh darah yang rentan ini membuatnya sewaktu waktu bisa pecah dan menyebabkan luka pada retina hingga menyebabkan bagian mata berikut terlepas dari dinding mata.

Mengapa ROP bisa terjadi? Hal ini sejatinya dipicu oleh kelahiran prematur itu sendiri. Perlu diketahui, pada pas umur kehamilan memasuki minggu ke-16, pembuluh darah terasa tumbuh dan berkembang di saraf optik mata dari janin.

Seiring berjalannya waktu, pembuluh darah berikut tetap bertumbuh hingga mendekati tepi retina. Pembuluh darah kemudian bermanfaat sebagai pemasok oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan selama proses pembentukan mata.

Apabila bayi lahir di pas yang seharusnya, ini artinya proses tumbuh kembang pembuluh darah berikut sudah nyaris selesai dan butuh kurang lebih 1 bulan pasca kelahiran hingga retina mata terbentuk dengan sempurna.

Ketika bayi lahir secara prematur, proses tumbuh kembang pembuluh darah mata yang mestinya tetap berlangsung—karena belum raih tepi retina—menjadi terhenti. Alhasil, pembuluh mata belum terbentuk secara sempurna.

Akibat pembuluh darah tidak terbentuk dengan sempurna, fungsinya untuk mengalirkan oksigen ke organ penglihatan berikut menjadi terganggu. Padahal, oksigen benar-benar dibutuhkan guna mendukung fungsi mata.

Pada kasus yang parah, suasana ini kemudian berujung pada lepasnya retina dari bola mata yang mana menyebabkan penderita ROP mengalami penurunan fungsi penglihatan. Kondisi ini di dalam dunia medis disebut sebagai ablasi retina. Ablasi retina adalah penyebab penderita ROP pada kelanjutannya mengalami buta permanen.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Penanganan medis sedini kemungkinan mutlak untuk dilaksanakan pada penderita retinopati prematuritas. Hal ini semata-mata demi meminimalisir problem mata yang satu ini jadi tambah buruk dan berujung pada komplikasi.

Oleh dikarenakan itu, sekiranya Anda melahirkan secara prematur, langsung berkonsultasi dengan dokter guna menentukan cara penanganan lebih lanjut. Pula, jangan tunda untuk langsung mendatangi dokter sekiranya pada buah hati Anda ditemukan gejala-gejala yang mengarah pada suasana ini.

Diagnosis Retinopati Prematuritas
Guna mendiagnosis ROP, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan berkala pada bayi. Umumnya, pemeriksaan ini dilaksanakan setiap 1-2 minggu sekali (berlaku termasuk untuk kasus ROP ringan) dan terjadi sejak bayi berusia 1 bulan. Pemeriksaan kelanjutan setiap 4-6 minggu akan dilaksanakan sekiranya ROP tak kunjung sembuh.

Salah satu cara yang dilaksanakan oleh dokter disaat melakukan pemeriksaan adalah dengan meneteskan cairan tertentu yang bermanfaat untuk melebarkan pupil. Hal ini mendukung dokter untuk bisa lihat mata dan bagian-bagiannya dengan baik.

Tujuan dari diagnosis ini adalah untuk jelas wilayah pembuluh darah yang abnormal, bagaimana wujud pembuluh darah yang abnormal tersebut, hingga tingkat keparahannya. Melalui prosedur diagnosis ini jugalah dokter bisa menentukan stadium ROP yang mana perihal ini berkenaan dengan metode penyembuhan yang nantinya diterapkan.

Stadium Retinopati Prematuritas
Berdasarkan hasil diagnosis, dokter akan menentukan stadium ROP yang diderita oleh pasien. Stadium atau tingkat keparahan penyakit ini terbagi menjadi 5 stadium, yaitu:

Stadium I, adalah ROP yang masuk ke di dalam kategori ringan. Pada kasus ini, sudah terdeteksi ada abnormalitas minor pada pembuluh darah.
Stadium II, adalah ROP yang mempunyai abnormalitas pembuluh darah yang lebih tinggi ketimbang ROP stadium I tapi tetap bisa dikatakan mudah dan kebanyakan termasuk tidak tidak membutuhkan penanganan khusus.
Stadium III, adalah ROP yang tingkat abnormalitas pembuluh darahnya sudah cukup kritis dan membutuhkan penanganan khusus.
Stadium IV, adalah suasana disaat ROP sudah hingga menyebabkan retina terlepas meskipun hanya sebagian.
Stadium V, adalah stadium ROP paling tinggi. Pada kasus ini, retina sudah mengalami ablasi total.
Stadium ROP ini menentukan metode penyembuhan yang pas untuk diterapkan sekaligus mengukur kesempatan kesembuhan penderita.

Pengobatan Retinopati Prematuritas
Pada kasus ROP ringan, penyembuhan secara tertentu kebanyakan tidak diperlukan. Pasalnya, retinopati prematuritas yang tetap di dalam stadium awal bisa pulih dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Akan tetapi, perihal ini tidak berlaku sekiranya ROP yang dialami tergolong ke di dalam stadium tinggi (stadium III hingga stadium V). Dokter lazimnya akan melakukan penanganan medis secara tertentu yang di antaranya terdiri dari:

1. Terapi Laser
Sesuai dengan namanya, metode penyembuhan ROP yang satu ini dilaksanakan dengan cara menyinari retina dengan sinar laser dengan intensitas kecil.

Tujuan dari penyembuhan ini adalah untuk menghentikan kegiatan perkembangan pembuluh darah abnormal pada retina dengan cara menghancurkan tepi retina. Tindakan operasi kebanyakan membutuhkan pas 30-45 menit untuk setiap mata.

Kendati mayoritas operasi laser terjadi lancar, sayangnya perihal ini—tidak semuanya—harus dibayar dengan hilangnya kapabilitas penglihatan ke objek samping (periferal).

2. Krioterapi
Cara menyembuhkan ROP yang seterusnya adalah dengan metode krioterapi (cryotherapy). Pada metode ini, mata pasien akan diberikan material beku. Tujuannya tetap sama, yaitu untuk menghancurkan tepi retina guna menghentikan perkembangan pembuluh darah abnormal pada bagian mata tersebut.

Krioterapi adalah metode penyembuhan ROP konvensional. Serupa dengan terapi laser, tindakan ini bisa berujung pada hilangnya kapabilitas lihat secara periferal.

3. Injeksi
Injeksi adalah metode penanganan ROP yang paling baru. Pengobatan dilaksanakan dengan cara menyuntikkan obat antikanker ke masing-masing mata. Obat-obatan antikanker seperti avastin dipercaya bisa menghentikan perkembangan pembuluh darah abnormal pada retina.

Kendati demikian, metode injeksi ini tetap wajib diteliti lebih lanjut guna meyakinkan keamanannya di dalam menyembuhkan ROP.

4. Scleral Buckling
Scleral buckling adalah metode penyembuhan yang dilaksanakan dengan cara memasang karet berbahan silikon pada daerah putih dari mata.

Tujuan dari penyembuhan ini adalah untuk menghindar gel vitreous menarik jaringan parut sekaligus menyebabkan retina lagi lagi ke dinding mata. Karet berikut akan dilepaskan sehabis lebih dari satu bulan atau th. kemudian guna hindari rabun jauh seiring dengan mata yang tetap mengalami pertumbuhan.

5. Vitrektomi
Vitrektomi adalah prosedur pengangkatan vitreous untuk kemudian diganti dengan larutan garam. Setelah diangkat, jaringan parut yang terbentuk di retina akan dipotong. Dengan demikian, retina bisa lagi menempel pada dinding mata.

Sama seperti scleral buckling, vitrektomi dilaksanakan sekiranya retinopati yang diderita oleh pasien sudah memasuki stadium tinggi, tepatnya stadium IV hingga stadium V.

Komplikasi Retinopati Prematuritas
Retinopati prematuritas yang tidak langsung ditangani bisa berujung pada sejumlah komplikasi, yaitu:

Mata juling (strabismus)
Rabun jauh
Rabun dekat
Amblyopia
Glaukoma
Kebutaan permanen
Komplikasi-komplikasi berikut kebanyakan baru nampak disaat seseorang memasuki umur anak-anak atau apalagi dewasa.

Pencegahan Retinopati Prematuritas
Oleh dikarenakan penyakit ini disebabkan oleh kelahiran prematur, maka cara mencegahnya tentu saja dengan hindari bayi Anda lahir secara prematur.

Kelahiran prematur sendiri dipengaruhi oleh sejumlah segi risiko, yaitu:

1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah
Beberapa segi risiko bisa dikatakan tidak bisa diubah seperti:

Wanita berusia 17 th. atau di atas 35 th. berpotensi melahirkan bayinya secara prematur
Orang Afrika lebih rentan mengalami kelahiran prematur dibanding orang dari etnis lainnya
2. Faktor Risiko yang Berkaitan dengan Kehamilan dan Reproduksi
Faktor risiko kelahiran prematur yang berkenaan dengan kehamilan dan reproduksi adalah:

Riwayat kelahiran prematur
Ada bagian keluarga yang dulu melahirkan secara prematur
Hamil anak kembar
Interval dengan kehamilan sebelumnya 18 bulan
Mengikuti program bayi tabung
Riwayat problem kesehatan pada serviks dan uterus
3. Faktor Risiko yang Berkaitan dengan Masalah Kesehatan Umum
Faktor risiko kelahiran prematur yang terjalin dengan kasus kesehatan lazim di antaranya:

Gangguan pola makan
Obesitas
Kekurangan berat badan
Diabetes
Trombofilia
Tekanan darah tinggi
Preeklampsia
4. Faktor Risiko yang Berkaitan dengan Gaya Hidup
Melahirkan bayi secara prematur termasuk sedikit banyak dipengaruhi oleh segi model hidup, seperti:

Stres
Merokok (atau terpapar asap rokok)
Mengonsumsi alkohol
Mengonsumsi narkoba
Celakanya, tindakan kekerasan fisik maupun mental yang Anda alami termasuk berpotensi menyebabkan komplikasi pada kehamilan tak kalau melahirkan secara prematur. Oleh dikarenakan itu, sebisa kemungkinan hindari faktor-faktor risiko tersebut.

Konsultasikan pada dokter berkenaan kemungkinan-kemungkinan Anda melahirkan secara prematur. Rutin melakukan pemeriksaan medis dan merawat kesehatan selama kehamilan termasuk menjadi kunci utama di dalam meminimalisir terjadinya ROP. Semoga bermanfaat!

Artikel Lainnya : teknik dasar permainan sepak bola

Baca Juga :