Pola-Pola Hereditas

Pola-Pola Hereditas

Pernah nggak sih anda bertanya-tanya, kenapa ya bentuk hidungmu dapat serupa bersama dengan bentuk hidung ayahmu. Atau, kok dapat sih di dalam satu keluarga, hanya anda yang miliki postur tubuh yang serupa bersama dengan ibumu. Hmm, anda menyadari nggak nih jikalau ternyata, semua itu tersedia kaitannya lho bersama dengan materi pewarisan pembawaan yang telah kami pelajari pada pembahasan sebelumnya. Hayo, siapa yang masih ingat?

Perlu anda ketahui, tiap tiap gen yang tersedia di di dalam tubuh kami membawa materi genetik yang diwariskan berasal dari induk kepada keturunannya. Nah, hal inilah yang sebabkan kenapa kami dapat miliki ciri atau pembawaan yang serupa bahkan serupa bersama dengan orang tua kita, Squad. Pewarisan pembawaan berasal dari orang tua kepada anak-anaknya ini disebut bersama dengan makna hereditas. Pada proses terjadinya pewarisan sifat, terdapat bentuk-bentuk spesifik atau pola-pola di dalam mewariskannya. Ayo kami ketahui apa saja macam-macam pola pewarisan pembawaan itu pada artikel di bawah ini!

1. Pautan Gen (Gene Linkage)

Pola pewarisan pembawaan yang pertama adalah pautan gen. Setiap kromosom memiliki kandungan gen yang tersimpan di daerah spesifik yang disebut lokus. Gen-gen ini dapat berada pada kromosom yang serupa atau kromosom yang berbeda. Nah, gen-gen yang berada di dalam satu kromosom homolog yang serupa dan letaknya saling berdekatan ini yang disebut sebagai pautan gen (gene linkage). Berikut ini merupakan contoh gen yang mengalami pautan dan gen yang tidak mengalami pautan.

Akibat letaknya yang saling berdekatan, gen-gen selanjutnya akan senantiasa bersama dengan hingga selagi pembentukan gamet (sel kelamin). Pautan berasal dari dua macam gen atau lebih akan menghasilkan kuantitas gamet yang lebih sedikit dibandingkan bersama dengan gen-gen yang tidak berpautan. Oleh gara-gara itu, keturunan yang dihasilkan akan miliki perbandingan fenotip dan genotip yang lebih sedikit pula. Contoh persoalan pautan gen dapat anda temui pada persilangan tanaman ercis pada gambar di bawah ini.

Persilangan ercis bunga ungu pollen lonjong (PPLL) bersama dengan ercis bunga merah pollen bulat (ppll) akan menghasilkan keturunan pertamanya (F1) yaitu ercis bunga ungu pollen lonjong (PpLl). Ketika dilaksanakan persilangan ulang pada antar sesama F1, maka akan menghasilkan keturunan (F2) bersama dengan perbandingan fenotip 3 : 1. Hal ini disebabkan gara-gara ada pautan antara gen P bersama dengan gen L, dan juga alelnya yaitu gen p bersama dengan gen l. Akibatnya, pada F2 hanya terbentuk dua macam gamet, yaitu PL dan pl.

2. Pindah Silang (Crossing Over)

Pola pewarisan pembawaan yang kedua adalah ganti silang. Pindah silang (crossing over) adalah momen pertukaran segmen kromatid yang bukan saudaranya (non-sister chromatids) berasal dari sepasang kromosom homolog. Peristiwa ganti silang berlangsung selagi pemisahan meiosis I, yaitu pada akhir profase I atau awal metafase I. Pada selagi itu, satu buah kromatid akan membelah jadi dua. Peristiwa ganti silang biasanya berlangsung pada organisme layaknya manusia, tumbuhan, dan termasuk hewan.

Peristiwa ganti silang akan menghasilkan keturunan bersama dengan pembawaan yang baru. Hal ini disebabkan gara-gara ada rekombinasi gen, yaitu penggabungan berasal dari beberapa gen induk jantan bersama dengan beberapa gen induk betina pada selagi proses fertilisasi (pembuahan), sehingga menghasilkan lapisan pasangan gen yang berbeda berasal dari gen-gen induknya. Nah, Squad, anda menyadari nggak, ternyata kami dapat mengkalkulasi nilai kandungan rekombinasi berasal dari hasil terjadinya ganti silang, lho!

3. Gagal Berpisah (Non Disjunction)

Selanjutnya adalah gagal berpisah. Pada pemisahan meiosis, kromosom-kromosom yang telah mengganda akan ditarik menuju kutub sel oleh benang-benang spindel yang melekat pada sentromer. Dalam situasi normal, kromosom-kromosom selanjutnya akan berpisah dan menuju ke kutub sel yang berlawanan. Akan tetapi, terdapat suatu persoalan di mana kromosom mengalami gagal berpisah, sehingga semua kromosom hanya akan tertarik ke tidak benar satu kutub sel saja. Akibatnya, gamet yang terbentuk akan mengalami penambahan atau pengurangan kuantitas kromosom.

Berikut ini merupakan contoh kelainan kuantitas kromosom yang diakibatkan oleh momen gagal berpisah, yaitu:

Aneuploidi
Aneuploidi adalah momen perubahan kuantitas kromosom yang hanya berlangsung pada pasangan kromosom tertentu. Perubahan kuantitas kromosom ini dapat berbentuk penambahan kuantitas kromosom atau pengurangan kuantitas kromosom. Aneuploidi dibedakan jadi beberapa macam berdasarkan perubahan kuantitas kromosomnya, di antaranya monosomi (2n-1), nulisomi (2n-2), trisomi (2n+1), dan tetrasomi (2n+2). Contoh aneuploidi yang lazim berlangsung pada manusia adalah persoalan trisomi 13 atau sindrom Patau.

Euploidi
Euploidi adalah momen perubahan kuantitas kromosom yang berlangsung pada semua pasangan kromosom. Hal ini sebabkan kuantitas kromosom individu bersama dengan persoalan euploidi akan senilai bersama dengan kelipatan kromosom haploidnya. Berdasarkan kuantitas kelipatan kromosomnya, euploidi dibedakan jadi triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n), dan seterusnya.

4. Gen Letal

Pola pewarisan pembawaan yang paling akhir adalah gen letal. Gen letal adalah gen yang sebabkan kematian individu di dalam situasi homozigot, sedang di dalam situasi heterozigot, seorang individu dapat berbentuk normal atau subletal.

Terdapat dua macam gen letal yang kudu anda ketahui, yaitu:

Gen letal dominan
Gen letal dominan merupakan gen yang sebabkan kematian individu di dalam situasi homozigot dominan. Sedangkan di dalam situasi heterozigot, seorang individu dapat berbentuk subletal yang sebabkan terjadinya kelainan. Contoh persoalan gen letal dominan adalah gen yang sebabkan kaki dan sayap pendek (redep) pada ayam, gen warna rambut kuning pada tikus, gen Huntington’s Disease, dan gen yang sebabkan pemendekan ruas-ruas tulang jari (brakidaktili) pada manusia.

Gen letal resesif
Sementara itu, gen letal resesif adalah gen yang sebabkan kematian individu di dalam situasi homozigot resesif. Sedangkan di dalam situasi heterozigot, seorang individu dapat berbentuk carrier (pembawa sifat) yang akan diwariskan kepada keturunannya. Contoh persoalan gen letal resesif adalah gen yang sebabkan kelainan albino pada tanaman jagung.

Selengkapnya : https://www.ruangguru.co.id/