Pengetahuan

Pengetahuan

Pengetahuan

Pengetahuan
Pengetahuan

Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui mengenai hal atau sesuatu pengetahuan dapat dilihat dari perilaku seseorang (Sarwono, 2005).
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan, yaitu indera pengliharan, pendengaran, penciuman, rasa, raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmodjo, 2003).
Pengetahuan atau kognitis adalah merupakan domain yang sangat berguna untuk terbentuknya tindakan seseorang pengetahuan yang mencakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai meningkatkan suatu materi yang tidak dipelajari sebelum Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah pengetahuan yang paling rendah, kata kerja yang digunakan antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan
2. Memahami
Suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi
Suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang riil.
4. Analisis
Suatu kemampuan untuk menj abarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi. Ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan dan mengelompokkan.
5. Sistensis
Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi
Suatu kemampuan untuk meletakkan penelitian, terhadap suatu materi atau objek pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi ingin diukur dari subjek penelitian atau responden ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaian dengan tingkat tersebut di atas (Notoadmodjo, 2003).
Berdasarkan hasil wawancara penelitian Djarismawati, dkk (2004) terlihat jawaban penjamah tentang perlunya mencuci tangan dengan sabun (100% menjawab perlu, tapi hasil observasi perilaku penjamah, 100% tidak mencuci tangan dengan sabun saat memulai pekerjaan, ini sangat bertolak belakang). Pada salah satu syarat tentang penjamah harus mengetahui higyene perorangan diantaranya adalah kebersihan tangan, kulit, rambut dan pakaian kerja.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Bauman (1961) dan Koos (1954) (dalam Friedman, 1998), mengemukakan bahwa semakin terdidik keluarga, semakin baik pengetahuan keluarga tentang kesehatan. Hal ini juga turut berpengaruh dalam aktif atau tidaknya pengetahuan keluarga tentang kesehatan, yaitu faktor geografis, dimana letak dan kondisi geografis di wilayah tersebut (Octaviani, 2008).
Hasil penelitian Khatimah (2009) bahwa pengetahuan perawat tentang sejalan dengan itu, mencuci tangan tergolong juga baik, (83,33%) cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan sangat rendah (33,33%), cuci tangan sebelum melakukan tindakan tergolong rendah (8,3%), kecapakan perawat dalam melakukan cuci tangan tergolong baik (58,33%). Perilaku perawat dalam menerapkan cuci tangan selama pelaksanaan tindakan keperawatan tergolong rendah, walaupun tingkat pengetahuan sudah cukup baik.
Hasil penelitian Hermawan (2008) didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang positif tingkat pengetahuan, pendidikan, dan persepsi, dengan perilaku ibu dalam memelihara kebersihan diri dan lingkungan.

Baca Juga :