Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

1. Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak (Peureula) adalah kerajaan pertama di Nusantara, yang berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja pertamanya yang bernama Alauddin Syah. Hal tersebut didasari dari naskah tua, Izhharul Haq. Naskah ini adalah hasil karangan Abu Ishak Makarani Al Fasy, antara lain disebutkan dengan tegas bahwa Kerajaan Perlak didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 H/tahun 840 Masehi, dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Alaidin.
Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah yang semula bernama Saiyid Abdul Aziz. Perlak berkembang menjadi pusat perdagangan lada. Hal tersebut banyak mendatangkan banyak pedagang yang kemudian singgah di Perlak, sehingga Kota Perlak berkembang & banyak mendatangkan kemakmuran. Namun hal tersebut justru menimbulkan ambisi dari para tokoh-tokoh setempat untuk saling berkuasa sehingga menimbulkan ketidakstabilan di Perlak. Faktor itu membuat para pedagang , mengalihkan kegiatan perdagangannya ke Samudera Pasai, sehingga berakhibat kemunduran dari kerajaan Perlak pada akhir abad ke XIII.

2. Kerjaan Samudera Pasai

Kerajaan ini terletak di pantai timur Aceh yakni disekitar Lhokseumawe & berdiri pada abad XIII. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan batu nisan Sultan Malik As-Saleh yang merupakan raja pertama di Samudera Pasai yang berangka tahun 1297. Sultan Malik As-Saleh memiliki nama asli Marah Silu. Beliau menikahi Langgang Sari yang merupakan puteri raja Perlak. Akibat dari pernikahan tersebut, kekuasaan Samudera Pasai semakin luas hingga ke pedalaman. Samudera Pasai menjalin hubungan dengan Delhi di India. Hal itu dibuktikan dengan adanya utusan Sultan Delhi, yakni Ibnu Batuta yang berkunjung ke Samudera Pasai hingga 2 kali.

3. Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-16 tahun 1204 di bawah pemerintahan Sultan Jihan Syah, Namun belum berdaulat dikarenakan masih berada di bawah pengaruh Kesultanan Padir. Kesultanan Aceh baru berdaulat disaat masa pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah tahun 1514-1528 & berhasil memperluas kekuasaan dengan menyatukan kerajaan-kerajaan disekitarnya seperti Samudera Pasai, Perlak, Lamuri, Benua Temian, & Indra Jaya. Kesultanan Padir bisa ditaklukan meskipun sudah bersekutu dengan Portugis.
Puncak dari kejayaan Aceh dicapai pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah 1607-1636. Wilayah-wilayah kekuasaan Aceh mencakup pantai barat Sumatera hingga Bengkulu, pantai Timur Sumatera hingga Siak, & daerah di Semenanjung Malaya, seperti Johor, Kedah, Pahang, & Patani.

4. Kerajaan Demak

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berdiri pada 1478. Pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah 1500-1518. Demak berhasil menjadi kerajaan yang besar, sebab letaknya yang strategis & memiliki hasil pertanian yang melimpah dengan komoditas ekspornya berupa beras. Perkembangan yang pesat dari Demak tidak lepas dari runtuhnya kerajaan Majapahit sehingga Demak mendapat dukungan dari kota-kota pantai utara Jawa yang lepas dari kekuasaan Majapahit. Dalam mengendalikan pemerintahan, Raden Patah didampingi oleh Sunan Kalijaga & Ki Wanapala. Masjid Agung Demak dibangun oleh Raden Patah, setelah memerintah selama 3 tahun. Demak mencapai kejayaan di masa pemerintahan Sultan Trenggono 1521 M & wilayah kekuasaannya hampir meliputi seluruh Jawa. Di masa pemerintahannya Sultan Trenggono, Demak berupaya membendung masuknya bangsa Portugis ke Jawa. kemudian setelah Sultan Trenggono meninggal pada tahun 1546 Masehi, Joko Tingkir menantu dari Sultan Trenggono naik tahta, kemudian beliau memindahkan ibu kota Demak ke Pajang pada 1568 M.

5. Kerajaan Pajang

Perlu diketahui bahwa kerajaan Pajang adalah kelanjutan dari Kesultanan Demak. Kerajaan ini didirikan oleh Pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) setelah beliau memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang, sedangkan Hadiwijaya dibantu Ki Ageng Pemanahan. Sebagai jasa atas bantuannya, Hadiwijaya kemudian mengangkatnya sebagai adipati di Mataram. Ki Ageng Pemanahan mempunyai seorang putera yang cakap dalam hal peperangan & menjadi anak angkat dari Hadiwijaya, yakni Sutawijaya.
Setelah Hadiwijaya meninggal, tahta Pajang dipegang oleh puteranya, Pangeran Benawa. Pada saat itu muncul pemberontakan yang dilakukan Arya Pangiri, putera Sunan Prawoto, yang menghendaki tahta Pajang. Tetapi pemberontakan itu berhasil dipadamkan karena adanya bantuan dari Sutawijaya. Karena merasa kurang mampu untuk menjalankan pemerintahan Pajang, Pangeran Benawa kemudian menyerahkan tahta Pajang kepada saudara angkatnya, Sutawijaya. Kemudian oleh Sutawijaya, pusat pemerintahan Pajang kemudian dipindahkan ke Mataram.

6. Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam berdiri pada 1586. Raja-raja yang memerintah Mataram Islam antara lain Sutawijaya (Senopati), Raden Mas Jolang, & Sultan Agung. Sutawijaya menjadi Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Aloga Sayidin Panatagama. Selama pemerintahan Sutawijaya, Mataram selalu diliputi oleh api peperangan, namun akhirnya berhasil dipadamkan.
Raja yang dapat membuat Mataram mencapai puncak kejayaan adalah Sultan Agung Hanyakrakusuma. Dalam masa pemerintahannya Sultan Agung tidak hanya berambisi untuk memperluas kekuasaan saja, namun juga berupaya meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat melalui usaha-usaha berikut;
  • Penduduk di Jawa yang tergolong padat dipindahkan ke Karawang karena daerah tersebut mempunyai perladangan & persawahan yang luas.
  • Di bentuk juga suatu susunan masyarakat yang bersifat feodal atas dasar masyarakat yang agraris yakni terdiri atas pejabat yang diberi tanah garapan.
  • Dibuat pula buku-buku filsafat, antara lain Sastra Gendhing, Niti Sastra & Astabrata.

7. Kerajaan Banten

Setelah Demak runtuh sepeninggalan Sultan Trenggono, Banten menjadi kerajaan sendiri dengan rajanya Sultan Hasanuddin/Maulana Hasanuddin. Ia memerintah pada 1552-1570 & berhasil mengembangkan agama Islam di wilayahnya. Setelah Sultan Hasanuddin meninggal, kemudian digantikan puteranya, yakni Panembahan Yusuf. Pada masa pemerintahan Panembahan Yusuf, Banten berhasil menaklukan kerajaan Pajajaran. Selanjutnya, puncak dari kerajaan Banten terjadi pada saat pemerintahan Sultan Ageng Tritayasa 1650-1682. Beliau merupakan raja anti VOC & melakukan perlawanan. Perjuangannya didapat diatasi oleh VOC dengan siasat adu domba, yakni Sultan Ageng diadu domba dengan putera Sultan Haji.

8. Kerajaan Cirebon

Kerajaan didirikan oleh Fatahillah/Falatehan. Beliau menjadi Sultan pertama di Cirebon. Beliau juga merupakan salah satu anggota walisongo yang di kenal sebagai Sunan Gunung Jati. Di masa tersebut Islam berkembang dengan pesat di berbagai daerah Jawa Barat. Kemudian setelah Sunan Gunung Jati meninggal, digantikan oleh cucunya yang dikenal dengan gelar Panembahan Ratu. Pada masa itu, Kerajaan Cirebon berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram, namun keduanya menjalin hubungan dalam suasana perdamaian. Kerajaan Cirebon terletak di daerah pesisir antara Jawa Tengah dengan Jawa Barat yang menyebabkan pelabuhannya ramai dikunjungi para pedagang sehingga mendukung perkembangan di Cirebon. Setelah Panembahan Ratu meninggal, kemudian digantikan oleh puteranya yang bergelar Panembahan Girilaya 1650-1662. Pada masa akhirnya menjadi Sultan, beliau membagi kekuasaan kerajaan Cirebon menjadi 2 yang diperintah oleh puteranya, yakni Kesultanan Kasepuhan yang dipimpin Panembahan Sepuh & Kesultanan Kanoman yang dipimpin oleh Panembahan Anom.

9. Kerajaan Gowa-Tallo/Makassar

Kerajaan ini merupakan kerajaan gabungan dari 2 kerajaan, yakni kerajaan Gowa & kerajaan Tallo. Pusat kerajaan Makassar adalah di Sombaopu, yang merupakan kota pelabuhan transito yang ramai di Sulawesi. Makassar mengalami berbagai kemajuan yang pesat karena beberapa faktor;
  • Karena faktor letak yang strategis, yakni menghubungkan Malaka & Maluku.
  • Faktor para pedagang, yang banyak hijrah ke Makassar & saat itu Malaka jatuh di tangan Portugis.

Para pedagang muslim berdatangan ke Makassar sejak abad ke-16. Di awal abad ke-17 penguasa Makassar memeluk agama Islam. Sang penguasa, yakni raja Gowa, Daeng Manrabia, memakai gelar Sultan Alauddin, sedangkan raja Tallo, Karaeng Matoaya, memakai gelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Kemudian kerajaan mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin. Beliau sangat anti VOC. Hal ini menjadi salah satu alasan VOC ingin menguasai Makassar. Pada akhirnya VOC mengalahkan Sultan Hasanuddin setelah bekerjasama dengan Aru Palaka (raja Bone). Kemudian Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya 1667. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/pancasila-sebagai-dasar-negara/)

10. Kerajaan Ternate

Kerajaan ini, pertama kali diperintah oleh Gali Buta, yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Zainal Abidin 1465-1486. Beliau awalnya merupakan seorang pemuda Ternate yang belajar Islam kepada Sunan Giri di Demak. Ternate adalah daerah yang kaya akan rempah-rempah. Oleh sebab itu, pedagang dari luar banyak yang datang untuk mendapatkan rempah-rempah di Ternate, antara lain dari Jawa, Aceh, Arab, & Tiongkok. Pedagang itu datang ke Ternate dengan membawa dagangan juga, seperti beras, madu, & pakaian.

11. Kerajaan Tidore

Kerajaan ini, juga terkenal dengan daerah penghasil rempah-rempah. Raja Tidore yang pertama ialah Ciriliyah. Kemudian setelah menganut agama Islam, namanya berganti menjadi Sultan Jamaluddin. Puncak dari kejayaan kerajaan ini, dicapai pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Dalam hal perdagangan kerajaan Ternate & Tidore selalu bersaing, sehingga mereka membentuk persekutuan yang disebut dengan Uli Lima & Uli Siwa untuk dapat menguasai perdagangan di Kepulauan Maluku.
Uli Lima adalah persekutuan yang terdiri dari kerajaan Ternate, Obi, Bacan, Seram, & Ambon. Sedangkan Uli Siwa adalah persekutuan sembilan yang terdiri dari Kerajaan Tidore, Makian, Halmahera, Kai, Mare, Moti, & pulau-pulau lain hingga bagian barat Pulau Papua.
Setelah kedatangan Portugis & Spanyol di Kepulauan Maluku. Keduanya itu memanfaatkan persaingan yang ada demi keuntungan mereka sendiri. Portugis kemudian bersekutu dengan Ternate sedangkan Spanyol bersekutu dengan Tidore. Portugis menang & berhasil menguasai perdagangan di Maluku. Setelah itu, Portugis bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk Maluku. Oleh sebab itu, Ternate dengan dukungan dari Tidore kemudian bersama-sama melawan Portugis sehingga pada akhirnya Portugis menyingkir dari Ambon.

12. Kerajaan Banjar

Kerajaan ini berada di Kota Banjarmasin & didirikan oleh pangeran Samudra sekitar abad ke-16. Setelah beliau, masuk Islam & menjadi raja, namanya berganti menjadi Sultan Suryanullah. Kerajaan Banjar menjalin kerja sama dengan kerajaan Demak, sebab pernah mendapat bantuan dari Demak, saat berusaha melepaskan diri & menaklukkan kerajaan Nagaradaha.