Distribusi kacau, sekolah kekurangan buku ajar

Distribusi kacau, sekolah kekurangan buku ajar

Distribusi kacau, sekolah kekurangan buku ajar

Distribusi kacau, sekolah kekurangan buku ajar

Pelaksanaan kurikulum 2013 masih menuai masalah teknis. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

, sejumlah sekolah yang terpilih menerapkan kurikulum 2013 kekurangan buku panduan untuk proses belajar mengajar.

Sedangkan beberapa sekolah lain justru kelebihan buku panduan dan akhirnya justru tidak terpakai.

“Memang ada laporan adanya masalah droping (penyaluran) buku panduan kurikulum 2013 dari dinas pendidikan kabupaten atau kota dan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang kekurangan atau kelebihan buku,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Kadarmanta Baskara Aji, di Yogyakarta, Senin (12/8/2013).

Menurut Aji, persoalan ini terjadi karena data jumlah siswa yang diberikan sekolah ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak sesuai dengan data penerimaan siswa baru.

Menurutnya, sekolah kebanyakan masih menggunakan data kelas terakhir

. “Padahal bisa saja tahun ajaran baru ini sekolah sudah menambah atau mengurangi kuota siswa barunya. Atau ada siswa yang tidak naik kelas sehingga butuh tambahan buku panduan,” tandasnya.

Di tingkat SD sampai SMP, lanjut Aji, kelebihan atau kekurangan buku panduan lebih dari 100 eksemplar. Ada sekira 20 dari 64 SD dan 29 SMP yang tidak cocok pendistribusian buku panduannya.

“Sedangkan di tingkat SMA dan SMK lebih sedikit sekitar sepuluh buku di lima

sampai tujuh sekolah dari total 29 SMA dan 23 SMK yang melaksanakan kurikulum 2013,” ungkapnya.

Jumlah buku yang tidak cocok pendistribusiannya di tingkat SD dan SMP lebih besar dibandingkan SMA dan SMK karena jumlah buku panduannya yang juga lebih banyak. Di tingkat SD diperlukan empat macam buku dan di tingkat SMP sebanyak delapan macam buku. Sementara di tingkat SMA hanya dibutuhkan tiga buku panduan.

Untuk mengatasi persoalan ini, Disdikpora DIY sudah melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Di tingkat SD, jumlah buku yang tersisa digeser ke sekolah lain yang membutuhkan. “Di tingkat SMP dan SMA juga sudah mulai proses penggeseran buku ke sekolah,” jelasnya.

 

Sumber :

https://www.behance.net/ojelhtcman4fb2