Di Ponpes Tebuireng, Ditjen Pendis Beberkan Tantangan Pendidikan Islam

Di Ponpes Tebuireng, Ditjen Pendis Beberkan Tantangan Pendidikan Islam

Di Ponpes Tebuireng, Ditjen Pendis Beberkan Tantangan Pendidikan Islam

Di Ponpes Tebuireng, Ditjen Pendis Beberkan Tantangan Pendidikan Islam

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Kementerian Agama Kamaruddin

Amin dalam seminar ‘Memadukan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional’ di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, menjelaskan bahwa saat ini pembinaan karakter di antara tantangan pendidikan di Indonesia. Dan pesantren merupakan katalisator atau kunci utama untuk menjawabnya.

“Pembinaan karakter adalah salah satu tantangan pendidikan Indonesia

yang merupakan the newly emerging capacities, atau kapasitas baru yang sedang dibutuhkan, baru muncul, ini yang harus kita pastikan. Dan pembinaan karakter ini yang sedang kita perjuangkan dan sesungguhnya Pesantren distingsinya di sini,” kata Kamaruddin saat mengisi rangakaian 120 tahun lahirnya Ponpes Tebuireng, di Gedung KH Yusuf Hasyim, Minggu (25/8/2019).

Tantangan berikutnya adalah madrasah di beberapa negara muslim sebagaian masih

dianggap sebagai tempat tumbuh dan kembang tindakan yang tidak moderat. Hal ini berbeda dengan kondisi madrasah di Indonesia yang sangat besar dan paling modern di dunia. Lembaga pendidikan Madrasah labih dari 80 ribu lembaga, dengan siswanya yang mencapai hampi 10 ribu siswa.

 

Baca Juga :

Go Internasional, Politeknik Negeri Jakarta Fokus Penguatan Kerja Sama

Go Internasional, Politeknik Negeri Jakarta Fokus Penguatan Kerja Sama

Go Internasional, Politeknik Negeri Jakarta Fokus Penguatan Kerja Sama

Go Internasional, Politeknik Negeri Jakarta Fokus Penguatan Kerja Sama

Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) terus berbenah dan meningkatkan daya saing.

Seperti politeknik lainnya, perguruan tinggi ini ingin mewujudkan visi menjadi politeknik bereputasi Internasional.

Untuk itu upaya PNJ pun tak tanggung-tanggung, mereka berupaya melakukan penguatan pada bidang kerja sama. Sejumlah kerja sama mereka wujudkan. Ditandai dengan workshop perizinan program Joint Degree dan Double Degree dengan kampus mitra internasional dari luar negeri di Bogor, 2-4 September 2019.

Kerja sama kali ini dengan Management and Science University

(MSU) Malaysia dan Asia e University. Dengan dua kampus itu saja, saat ini PNJ telah mengelola beberapa program kuliah kerja sama.

Baca Juga:

Siswa Indonesia Harumkan Nama Bangsa lewat Ajang Penelitian di Jepang
PKB Dorong Ada Kebijakan Serius Tingkatkan Literasi Siswa

Pembantu Direktur Bidang Kerja Sama PNJ, Dr Dianta Mustofa Kamal

dalam paparannya mengungkapkan, peran strategis kerja sama internasional dan peningkatan standar pelaksanaan organisasi adalah upaya meningkatkan kualitas dan ranking PNJ di masa yang akan datang.

 

Sumber :

https://civitas.uns.ac.id/kasiono/3c-toolbox-pro/

Menristek Dikti Sebut Sudah 96 Perguruan Tinggi Raih Akreditasi A

Menristek Dikti Sebut Sudah 96 Perguruan Tinggi Raih Akreditasi A

Menristek Dikti Sebut Sudah 96 Perguruan Tinggi Raih Akreditasi A

Menristek Dikti Sebut Sudah 96 Perguruan Tinggi Raih Akreditasi A

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohamad Nasir

terus mendorong perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri ataupun swasta agar dapat meningkatkan kualitasnya untuk memperoleh akreditasi A. Nasir mengungkapkan hal ini merespons tantangan dan peran perguruan tinggi dalam menghadapi era industri 4.0.

“Saya mendorong perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitasnya, baik swasta maupun negeri. Hal ini merespons tantangan dan peran perguruan tinggi dalam menghadapi era industri 4.0,” ujar Menteri Nasir saat menghadiri Wisuda dan Dies Natalis Universitas Nasional ke-70 di JCC, Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Pada kesempatan tersebut, Menristek Dikti menyebutkan dibandingkan awal masa

pemerintahannya terjadi lompatan jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang telah meraih akreditasi A. Dia menyebutkan saat ini sudah ada 96 perguruan tinggi di Indonesia yang telah meraih akreditasi A, 13 di antaranya merupakan perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Baca Juga:

Menteri Nadiem Makarim: UN Tidak Dihapus
Raker dengan DPR, Mendikbud Dikasih Pantun Soal UN Dihapus

Lebih lanjut, Nasir berharap kampus dapat menjadi penggerak inovasi membangun negeri,

dan SDM dan IPTEK yang dihasilkan akan menjadi kekayaan yang tidak ternilai menjadi modal bangsa dalam percaturan global di era industri 4.0.

 

Sumber :

http://fenilu95.blog.unjaniyogya.ac.id/adguard-premium/

Perluas Kerjasama, Kini dengan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

Perluas Kerjasama, Kini dengan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

Perluas Kerjasama, Kini dengan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

Perluas Kerjasama, Kini dengan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo

Berpayung pada tujuan memajukan pendidikan Indonesia, pendidikan.id memperluas

kerjasama agar dapat menghasilkan karya-karya yang lebih bemutu. Kali ini, Pendidikan.id menggandeng SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo sebagai partner dalam membuat video pembelajaran. Pihak SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo bersedia memberikan materi pembelajaran, sementara Pendidikan.id yang akan mengolahnya menjadi video.

Perjanjian kerjasama ini diawali dengan dua hari pengambilan video oleh Pendidikan.id di SD Pembangunan Jaya 2. Selama dua hari, 29 – 30 Maret 2017, ada sepuluh episode pembelajaran yang direkam untuk kemudian dikemas menjadi video-video edukasi. Jenis pelajaran yang disuguhkan bermacam-macam, mulai dari tematik, bahasa inggris, matematika hingga pendidikan jasmani atau olahraga.

Pelajaran Tematik Kelas Tiga yang Dilakukan di Taman

Proses belajar-mengajar tidak terbatas pada ruang kelas, bahkan bisa dilakukan

di luar kelas seperti taman dan lapangan. Misalnya pada pelajaran tematik, para diajak untuk memanfaatkan taman sebagai tempat belajar yang menyenangkan. Tak hanya sekedar memindahkan papan tulis dan bangku ke taman untuk belajar mengajar, tapi juga melakukan kegiatan praktik seperti mengamati tumbuhan, atau membersihkan kebersihan taman. Selain untuk menciptakan suasana yang berbeda, belajar di taman juga meningkatkan kedekatan anak pada suasana alam.

Suasana Kondusif dalam Pelajaran Matematika Kelas Enam di Kelas

“Apalagi di era digital, siswa lebih suka menghabiskan waktu di depan gadget ketimbang bermain dengan alam. Maka kegiatan-kegiatan di luar kelas seperti ini menjadi sangat penting, agar siswa lebih mengenal alam,” jelas Lina Sam Raidha, guru pelajaran tematik.

Kegiatan belajar-mengajar di kelas tentunya juga penting, terutama untuk meningkatkan

konsentrasi siswa dalam suasana yang kondusif. Suasana kondusif berarti suasana yang nyaman digunakan untuk belajar. “Bagaimanapun, ruang kelas tetap pilihan terbaik untuk belajar, karena nyaman, dingin dan tidak bising atau terganggu dengan debu dan sampah,” ujar Lina.

 

Baca Juga :

Solusi Belajar Gratis, Mudah dan Cepat Saat Minim Dampingan Guru, Khususnya di Daerah Terpencil Indonesia

Solusi Belajar Gratis, Mudah dan Cepat Saat Minim Dampingan Guru, Khususnya di Daerah Terpencil Indonesia

Solusi Belajar Gratis, Mudah dan Cepat Saat Minim Dampingan Guru, Khususnya di Daerah Terpencil Indonesia

Solusi Belajar Gratis, Mudah dan Cepat Saat Minim Dampingan Guru, Khususnya di Daerah Terpencil Indonesia

Kegiatan belajar-mengajar di kelas baru akan terlaksana jika dua pihak, guru dan murid sama-sama hadir dalam satu tempat dan waktu. Idealnya, guru dan murid saling berinteraksi membahas pelajaran. Guru bertanggung jawab atas kekayaan materi pelajaran, skill sekaligus karakter yang dimiliki para murid. Maka secara tidak langsung, guru merupakan agen utama pembentuk generasi bangsa. Kualitas bangsa bergantung pada kualitas pendidikannya.

Sayangnya, hal ini belum dijadikan pedoman bagi para guru di sekolah-sekolah Kabupaten Kepulauan Aru.

Menurut berita yang dilansir dari Kompas (edisi senin, 15 Mei 2017 hal. 01), sejumlah guru meninggalkan sekolah selama berbulan-bulan. Jarak, transportasi dan akomodasi menjadi kendala bagi mereka untuk bisa datang ke sekolah setiap hari. Pasalnya, guru-guru yang berstatus pegawai negeri sipil ini bertempat tinggal di Dobo, ibu kota kabupaten. Perlu waktu 8 – 12 jam menggunakan kapal motor, untuk menempuh perjalanan hingga sampai ke sekolah tempat mereka mengajar.

Anak-anak masyarakat Kepulauan Aru di depan sekolah

Kompas menyebutkan, guru hanya akan datang ke sekolah saat menjelang ujian semester dan ujian nasional. Selama guru tak di lokasi, kegiatan belajar murid didampingi oleh beberapa guru honorer dan peserta program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal. Alhasil, sebagian besar murid di Aru belum lancar membaca, menulis dan berhitung. Salah seorang murid SMP, Jeky Sogalrey, bahkan masih kesulitan membaca kata yang terdiri lebih dari empat huruf.

Persoalan serupa juga banyak dijumpai khususnya di daerah terpencil Papua

, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara. Kondisi yang memprihatinkan ini seakan semakin menggugah pendidikan.id untuk terus berkarya. Tujuannya, agar murid tetap dapat belajar meski terbentang jarak geografis antara guru dan murid. Bagaimana tidak, hanya dengan satu layar saja para murid sudah bisa mengakses Video Pendidikan Indonesia (VPI). Meski belum lancar membaca, melalui penjelasan lisan dalam VPI setidaknya mampu membantu mereka untuk memahami konsep materi.

Video Pendidikan Indonesia (VPI) bisa diakses dan diunduh secara gratis

VPI dirancang sebagai bentuk audio visual dari materi-materi dalam buku pelajaran.

Video-video karya pendidikan.id ini dikemas menarik secara visual dengan durasi yang tak begitu panjang, antara 15 – 40 menit. VPI dapat menjadi solusi cara belajar para murid ketika tak ada dampingan guru. Sedangkan bagi murid yang sudah lancar membaca, bisa membaca buku-buku pelajaran juga pada layar gadget yang sama. Buku Sekolah Digital (BSD), salah satu fitur dalam pendidikan.id, menyediakan lebih dari 2000 buku pelajaran secara gratis.

Selain gratis, VPI dan BSD dapat diakses secara offline, tanpa jaringan internet. Caranya yaitu dengan mengunduhnya terlebih dahulu, sehingga dapat tersimpan dan dibuka kembali di lain kesempatan. Setelah itu, file VPI dan BSD bisa dicopy-paste ke gadget-gadget murid yang lainnya. Sehingga, proses distribusi bahan belajar dari pendidikan.id juga cenderung lebih mudah dan cepat. Setidaknya, hal ini dapat cukup membantu para murid daerah terpencil dalam belajar meski minim dampingan guru. Pendidikan.id saat ini telah membantu proses belajar ratusan ribu murid di Indonesia, yang dibuktikan dengan jumlah pengunduh di MobileApps dan banyaknya testimoni pengguna.

 

Sumber :

http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JPAUD/comment/view/516/1602/21502

Kesulitan Buku dan Internet, Kendala yang Tak Memadamkan Api Kepedulian Dedy untuk Pendidikan di Papua

Kesulitan Buku dan Internet, Kendala yang Tak Memadamkan Api Kepedulian Dedy untuk Pendidikan di Papua

Kesulitan Buku dan Internet, Kendala yang Tak Memadamkan Api Kepedulian Dedy untuk Pendidikan di Papua

Kesulitan Buku dan Internet, Kendala yang Tak Memadamkan Api Kepedulian Dedy untuk Pendidikan di Papua

Terpisah oleh bentangan samudera mungkin menjadi alasan terbesar,

mengapa banyak daerah di luar Pulau Jawa masih timpang. Tidak hanya timpang dalam aspek ekonomi, sosial dan politik, tapi juga pendidikan. Padahal, pendidikan adalah aspek mendasar yang harus dikuasai agar dapat mengentaskan ketimpangan di aspek lainnya. Gedung bangunan yang masih sederhana, fasilitas yang tidak memadai, hingga kekurangan tenaga pengajar atau guru. Jaraknya yang jauh dari pusat keramaian dan titik modern, membuat hampir setiap orang enggan mengajar di daerah-daerah terpencil. Namun jika tak pernah ada kesadaran bagi setiap warga negara untuk membangkitkan pendidikan di luar Jawa, maka sampai kapan harus menunggu adanya pemerataan ekonomi?

Deddy Yuswanto bersama murid-muridnya dalam acara Pentas Seni Sekolah

Kondisi ini menggugah nurani Dedy Yuswanto, seorang lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS). Ia merasa peduli, atas masih tertinggalnya pendidikan di tanah Papua. “Tak ada guru untuk Papua. Sampai kapan mereka harus tertinggal, jika tak ada yang mengajari untuk maju?,” lontar Dedy via telepon kepada pendidikan.id (Rabu, 19/07/2017). Kepedulian dan empati yang begitu besar terhadap siswa-siswi Papua, membuatnya bertekad keras untuk mengabdikan diri di sana. Ia ingin turut mengambil peran dalam pemecahan masalah pendidikan yang seolah tak kunjung usai ini. “Kalau bukan warga Indonesia yang mengerjakan ladangnya sendiri, lalu siapa?” imbuh pemuda asal Kota Sidoarjo ini.

Setelah sepuluh tahun Dedy mengajar Bahasa Inggris di SMP Hang Tuah Surabaya, tahun 2007 ia memulai perjalanan hidup yang baru di Papua. Ia menjadi guru Bahasa Inggris dan Komputer di SMKN Kainul, Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen. Memang berat jika harus meninggalkan teman dan sanak saudara di pulau seberang, namun panggilan jiwa jauh tak dapat dihindari. Bagaimanapun, Dedy sangat bersyukur masih dapat membawa serta istri dan anaknya ke kampung mereka yang baru, Kampung Kainui Distrik Angkaisera.

“Mengajar di Papua tidak mudah. Banyak kendala, mulai dari fasilitas hingga sarana-prasarana

, yang membuat belajar-mengajar terhambat,” itulah kesan pertama yang dilontarkan Dedy. Menurutnya, kendala paling fatal yang dapat menghambat kegiatan belajar yaitu distribusi buku yang tidak lancar. Ia mengungkapkan, sekolah di Papua menggunakan buku-buku yang disupport dan dikirim oleh pemerintah. Namun sayangnya, pengiriman buku selalu terlambat, bahkan kadang juga tak pernah datang. Akibatnya, siswa seringkali tidak menggunakan buku paket sebagai pedoman belajar. Tidak hanya siswa, guru juga merasa kesulitan mengajar tanpa buku. “Dan jika jumlah buku terbatas, maka buku tak boleh dibawa pulang. Hanya boleh digunakan di sekolah, satu buku dibaca untuk beberapa anak,” ungkapnya.

Satu lagi kendala yang harus dihadapi Dedy dan teman-teman SMKN Kainul ialah koneksi internet. Arus data internet dapat dimanfaatkan untuk mencari bahan pelajaran, tugas hingga memperkaya diri dengan wawasan. Tapi di tengah gempuran dunia digital ini, Dedy justru tak bisa memperkenalkan lebih banyak soal digitalisasi kepada para siswa. “Koneksi internet di sini ada, tapi tak begitu baik seperti di kota besar. Sudah disediakan wifi oleh Menkominfo di sekolah, tapi muatannya hanya 2 megabyte per-hari,” papar Dedy, pria kelahiran Sidoarjo 35 tahun yang lalu ini. Harga kuota internet sendiri hanya mampu dijangkau oleh masyarakat-masayarakat yang telah bekerja, atau yang mampu secara finansial. “Sedangkan siswa-siswi generasi Z adalah yang justru paling membutuhkan koneksi internet. Agar mereka bisa banyak belajar,” imbuhnya.

Kurangnya tenaga pengajar selalu menjadi isu utama dunia pendidikan di luar Jawa.

Persis seperti yang terjadi di SMKN Kainul, tempat Dedy mengajar. Banyak guru yang merangkap pelajaran lain, meski bukan bidangnya. Dedy sendiri mengajar Bahasa Inggris sekaligus Komputer, padaha ia hanya mengantongi ijazah Bahasa Inggris. Menurutnya hal ini justru akan merugikan siswa, karena guru tak dapat menguasai materi secara maksimal. “Mungkin benar guru akan mengambil materi rangkapan yang ia bisa atau mampu. Tapi tetap saja tidak maksimal, karena ia tak menguasai materi secara mendalam hingga akar-akarnya,” jelasnya.

 

Sumber :

https://ejournal.unib.ac.id/index.php/agrisep/comment/view/2638/0/5202

Karaktenstik Jasa

Karaktenstik Jasa

Karaktenstik Jasa

Karaktenstik Jasa

Karaktenstik Jasa
Beberapa karakteristik utama dari jasa, menurut Kotler(1 993:230), adalah sebagai berikut:

1. Intangibility (Tidak berwujud)
Jasa mempunyai sifat tidak berwujud karma tidak bisa dindentifikasi oleh ke lima indera manusia, seperti: dilihat, dirasa, diraba, didengar, atau dicium sebelum terjadi proses transaksi pembelian.

2. Inseparability (Tidak dapat dipisahkan)
Jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, apakah sumber itu merupakan orang maupun mesin, disamping itu apakah sumber itu hadir atau tidak, produk fisik yang berwujud tetap ada.

3. Variability (Berubah-ubah)
Jasa dapat mudah berubah-ubah karena jasa ini tergantung pada siapa yang menyajikan, kapan, dan dimana disajikan.

4. Perishability (Daya tahan)
Jasa tidak dapat disimpan dan tidak memiliki daya than yang lama karena sifatnya tergantung dari fluktuasi pennintaan.

Baca Juga :

Pengertian Jasa

Pengertian Jasa

Pengertian, Karakteristik dan Jenisnya

Pengertian, Karakteristik dan Jenisnya

Pengertian Jasa

Menurut Lupiyoadi (2001:5)pengertian jasa adalah:
“A service is an activity or series of activities of more or less intangible nature that normally, hut not necessarile, take place in interactions between the customer and service employees and/or physical resources or good ard/or system of the service provider, which are provided as solutions to customer problems.”(Gronroos, 1 990)
Tidak jauh berbeda dengan definisi diatas, Kotler(1991: 260)mendefinisikan jasa sebagai: “Setiap tindakan atau kegiatan yang ditawarkan suatu pihak kepada yang lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.”

Sementara itu, produksi jasa mungkin berkaitan dengan produk fisik atau tidak. Jadi pada dasarnya jasa merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau kontruksi, yang biasanya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah (seperti misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, atau kesehatan) atau pemecahan atas masalah yang dihadapi konsumen.

Sumber : https://pesantrenkilat.id/

Spesifikasi Jabatan

Spesifikasi Jabatan

Spesifikasi Jabatan

Spesifikasi Jabatan

Spesifikasi Jabatan Spesifikasi jabatan memberikan suatu gambaran mengenai kualifikasi kepribadian yang dituntut dalam suatu jabatan. Spesifikasi jabatan tersebut akan memberi identifikasi dan formulasi secara jelas tentang syarat-syarat jabatan yang dituntut dari seseorang yang nantinya dipromosikan untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Prasyarat yang ditentukan seharusnya relevan dengan tugas-tugas pokok maupun spesifikasi/kondisi kerja yang akan dihadapi (baik yang menyangkut kemampuan fisik maupun mentalnya). Berdasarkan ketetapan mengenai prasyarat jabatan ini, maka manajemen akan bisa memiliki acuan dasar untuk melakukan program recruiting maupun training (pelatihan). Spesifikasi
jabatan harus dibedakan dari analisis jabatan, karena spesifikasi jabatan pada hakekatnya disimpulkan atau didasarkan dari hasil analisis jabatan. Agar suatu jabatan bisa berhasil dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka disusun suatu prasyarat jabatan yang secara spesifik ditetapkan sebagi berikut:

1. Prasyarat Pengetahuan (Knowledge)
Meliputi pengetahuan yang dibutuhkan untuk tiap-tiap jabatan seperti pengetahuan teknis, profesional, administrasi/manajemen dan sebagainya.

2. Prasyarat Keterampilan (Skill)
Masalah keterampilan (skill) ini sulit untuk diidentifikasikan maupun didefinisikan, keterampilan merupakan bentuk-bentuk perilaku yang penting dalam memberikan identifikasi dan tolok ukur seseorang secara efektif. Ketrampilan dikembangkan dari proses latihan yang teratur, rutin disamping tentunya juga tergantung pada kemampuan mental bawaan dan atribut fisik seseorang.

3. Prasyarat Sikap (Attitude)
Prasyarat ini yang paling sulit untuk diukur. Sikap pada hakekatnya merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak yang sangat tergantung pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Agar tetap bisa berguna, maka spesifikasi jabatan harus selalu diperiksa – terlebih-lebih akan diterapkan dievaluasi dan dikoreksi kembali apakah spesifikasi / prasyarat suatu jabatan masih memadai (up-to-date) mengingat adanya perubahan/perkembangan yang mungkin terjadi.

Sumber :https://obatwasirambeien.id/

Mahasiswa MEO Unsri Gelar Dialog Nasional Mengelola Even Olahraga

Mahasiswa MEO Unsri Gelar Dialog Nasional Mengelola Even Olahraga

Mahasiswa MEO Unsri Gelar Dialog Nasional Mengelola Even Olahraga

Mahasiswa MEO Unsri Gelar Dialog Nasional Mengelola Even Olahraga

Mahasiswa Magister Manajemen FE Unsri, Program Kerjasama Kemenpora

– Unsri, angkatan pertama tahun 2018 menyelenggarakan dialog nasional “Mengelola Prestasi Lewat Even Olahraga”, Kamis (21/2/2019). Acara yang digelar di Gedung Graha Sriwijaya, Kampus Unsri Bukit Besar, Palembang ini menghadirkan narasumber Sekretaris Menpora, Gatot S Dewabroto, H Alex Noerdin, dan M Hinayah yang menjadi salah satu atlet peraih medali emas dalam Asian Games 2018 lalu.

Ketua Panitia Penyelenggara, Zulfikri mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari terapan kelilmuan yang dilakukan oleh pihaknya, sesuai dengan konsentrasi jurusan yang ditentukan dalam program kerjasama Kemenpora-Unsri, yakni Manajemen Even Olahraga (MEO).

“Sebelumnya kami juga mengundang Erick Thohir, untuk mengisi materi dalam kegiatan ini

, namun kebetulan berhalangan hadir. Namun, tetap tidak mengurangi esensi dalam tema, mengingat kompetensi yang dimiliki oleh narasumber lain yang hadir,”ujarnya.

Zulfikri menjelaskan, kelas magister manajemen dengan konsentrasi Manajemen Even Olahraga ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Oleh sebab itu, kegiatan yang berlangsung kemarin juga menjadi wujud eksistensi pihaknya.

“Kedepan kami berharap akan mendapat dukungan dan bisa berkoordinasi

dengan berbagai pihak. Mengingat, kami memang dikhususkan untuk mengelola even secara akademis dan praktis, maka kami juga berencana menggelar beberapa even lagi untuk memantapkan kemampuan,”jelasnya.

Kegiatan ini mendapat apresiasi lebih dari 600 peserta yang terdiri dari berbagai kalangan. Khususnya mahasiswa di jurusan yang terkait olahraga, pariwisata, akademisi, dan praktisi di bidang even organizer.

Hal ini diamini oleh Ketua Program Studi Magister Manajemen FE Unsri, Hj Marlina Widianti yang mengaku mengapresiasi kerja anak didiknya dalam even kali ini. Tidak hanya memberikan pendidikan dan pengajaran mengenai bagaimana memanajemen sebuah kegiatan, tetapi juga berbagai aspek dalam penyelenggaraan even.

 

Baca Juga :