Banyak Ilmu Penting saat Business Day, Ajak Siswa Tangguh Berwirausaha

Banyak Ilmu Penting saat Business Day, Ajak Siswa Tangguh Berwirausaha

Banyak Ilmu Penting saat Business Day, Ajak Siswa Tangguh Berwirausaha

Banyak Ilmu Penting saat Business Day, Ajak Siswa Tangguh Berwirausaha

 

Yeaay… Business day! Momen yang satu ini ditunggu-tunggu seluruh warga SD Al Hikmah, Surabaya. Kali ini giliran siswa kelas V yang berperan sebagai penjual. Uang saku Rp 5.000 bisa mendapat kudapan nikmat. Yuk, tengok suasananya.

FADHILA Melati bersuara lantang. Siswa kelas V SD Al Hikmah itu tak segan menawarkan sate telur

puyuh kepada siswa yang bergerombol di kantin. Meski sate telur puyuh itu bukan murni dagangannya, dia sigap membantu rekannya satu tim yang barang jualannya masih tersisa.
Ya, Kamis pagi itu (24/8), para siswa SD Al Hikmah memang sedang ”menyerbu” kantin sekolah.

Sebab, hari itu sedang digelar business day. Kegiatan rutin dalam agenda sekolah tersebut.
Murid-murid putri kelas V bertugas membawa aneka produk makanan. Ada roti lapis, puding, es krim, nasi kuning, sosis bakar, es dawet, dan banyak ragam lain. Adapun, para siswa dari kelas lain berperan sebagai pembeli. Para penjual mesti sabar meladeni, pembeli pun belajar sabar mengantre.
Banyak Ilmu Penting saat Business Day, Ajak Siswa Tangguh Berwirausaha
Business Day @ SD Al Hikmah, Surabaya (Grafis: Rizky/Jawa Pos/.com)

Waka Kurikulum Kelas Bawah SD Al Hikmah Sulastri mengatakan, aneka produk

makanan itu sudah disiapkan dari rumah. Di sekolah, mereka belajar menawarkan produk kepada seluruh stakeholder. Bukan hanya kepada para siswa, mereka juga harus tangguh berjualan di hadapan guru, karyawan, ataupun wali murid yang kebetulan hadir. ”Mengajarkan anak berjiwa entrepreneur,” tuturnya.

Para siswa dibagi menjadi kelompok tutor. Tiap kelompok terdiri atas 5–6 siswa. Tiap-tiap siswa membawa produk yang berbeda. Jumlah produk yang dibawa sebanyak 20 buah. Harga maksimal yang bisa ditawarkan adalah Rp 5.000 per buah.

Setiap siswa belajar menjajakan barang dagangannya. Para siswa yang barang dagangannya sudah habis bisa membantu siswa lain. Setelah berjualan, mereka melakukan penghitungan. Mulai modal, hasil penjualan, serta laba yang diperoleh. ”Penghitungannya dilaporkan kepada guru,” ujarnya. Sebagian laba diinfakkan untuk tujuan bakti sosial.

Sulastri menyebutkan, peserta didik belajar banyak hal melalui business day. Jiwa entrepreneur

mereka diasah. Demikian juga keberanian menjajakan produk hingga belajar survive untuk tidak menyerah. Kegiatan tersebut menjadi bagian pembelajaran terintegrasi. Yakni, belajar berkomunikasi, matematika, hingga memperoleh ilmu berinteraksi.

Yang menarik, para siswa itu lebih erat dalam kelompok tutor. Kelompok tutor tersebut dibentuk saat mereka naik ke kelas V. Menurut Sulastri, kelompok tutor saling membantu dan mengingatkan. Selain membantu belajar dalam tim, mereka saling mengingatkan saat salat Subuh.

”Dilakukan berantai dalam satu kelompok, lalu dilaporkan kepada guru,” katanya. Mereka juga diajari untuk rajin berinfak. Dengan demikian, kelompok tutor pun terbiasa belajar berorganisasi dan bekerja dalam tim.

 

Sumber :

http://www.pearltrees.com/danuaji88/item261349768