Zonasi Sekolah, Angin Segar Bagi Difabel

Zonasi Sekolah, Angin Segar Bagi Difabel

Zonasi Sekolah, Angin Segar Bagi Difabel

Zonasi Sekolah, Angin Segar Bagi Difabel

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Aturan itu terus berubah dari tahun ke tahun, dan menimbulkan gejolak di kalangan orang tua siswa. Namun tahun ini, aturan baru yang ditetapkan sebenarnya membawa dampak positif bagi kelompok siswa berkebutuhan khusus atau difabel. Dalam aturan yang ditetapkan Mendikbud Muhajir Efffendi, sekolah wajib menerima siswa difabel yang tinggal di dekat lokasinya secara otomatis.

Sambutan positif diberikan Muhammad Joni Yulianto, Direktur Eksekutif Sasana Inklusi dan Advokasi Gerakan Difabel (Sigab). Terlepas dari pro-kontranya, sistem zonasi kata Joni berpotensi mendorong pendidikan inklusi berjalan lebih baik. Selama ini, pemerintah memang telah mengampanyekan sekolah inklusi, tetapi dalam pelaksanaannya, hanya ada sedikit sekolah semacam itu di setiap kabupaten. Anak-anak difabel akhirnya tetap harus menempuh jarak yang jauh untuk bersekolah.
Muhammad Joni Yulianto (foto: koleksi SIGAB).
Muhammad Joni Yulianto (foto: koleksi SIGAB).

“Sistem zonasi ini sebenarnya momentum untuk lebih menegaskan bahwa difabel

bisa sekolah di manapun, dan memang harus yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Kalau kita lihat dari sisi mobilitas, ini menjadi relatif terjangkau. Dari aspek lain, mereka bisa tetap berada di lingkungan tempat tinggalnya, terjangkau dalam pengawasan orang tuanya, dan bisa memperoleh dukungan dari keluarganya ketika membutuhkan,” kata Joni.

Sebelum ini, pemerintah sebenarnya telah menetapkan program sekolah inklusi. Dalam program ini, ada sejumlah sekolah reguler yang diminta untuk menerima siswa berkebutuhan khusus. Namun menurut Joni, perkembangan program ini tidak menggembirakan. Sekolah-sekolah hanya menyambut positif ketika ada program khusus yang ditetapkan kementerian. Akhirnya, sekolah tidak pernah benar-benar siap untuk menjadi sekolah inklusif.
/**/ /**/ /**/ Seorang anak difabel tuna daksa membaca puisi didampingi tarian lima anak tuna netra saat tampil di Hari Tari Dunia di kompleks ISI Solo, Senin (29/4). (Foto: VOA/Yudha)
BACA JUGA:

Hari Tari Dunia, Anak Difabel Tuna Netra dan Tuna Rungu, Menari dalam Sunyi dan Gelap

Melalui skema zonasi yang tahun ini ditetapkan kementerian, Joni yakin akan membuat sekolah mau tidak mau melakukan perbaikan terkait layanan bagi difabel. “Kalau mau menerapkan, jangan tunggu siap dulu. Justru kebutuhan difabel untuk belajar di sekolah terdekat ini bisa dijadikan momentum untuk mempercepat kesiapan itu. Kalau ditunggu siap, kapan siapnya? Karena selama ini memang tidak ada roadmap-nya,” tambah Joni.

Sekolah Wajib Terima Siswa Difabel

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta, Kadarmanta Baskara Aji memberikan keterangan rinci terkait proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ada tiga jalur yang bisa dilalui siswa untuk masuk ke sebuah sekolah.

Jalur pertama adalah jalur prestasi, di mana 5 persen dari daya tampung sekolah bisa diberikan kepada siswa dari luar zonasi. Jalur kedua adalah skema perpindahan orang tua karena pekerjaan, yang juga ditetapkan kuotanya sebayak 5 persen dari total daya tampung sekolah. Sisanya, yaitu 90 persen dari daya tampung sekolah harus diprioritaskan kepada siswa dari wilayah terdekat sekitar sekolah yang ditetapkan.
Siswa sebuah sekolah bermain basket. (foto: VOA/Nurhadi)
Siswa sebuah sekolah bermain basket. (foto: VOA/Nurhadi)

Di dalam 90 persen kuota itu, kata Baskara Aji, termasuk di dalamnya adalah 20 persen siswa dari keluarga tidak mampu. Dari kuota ini, sekolah juga wajib menerima 2 siswa berkebutuhan khusus untuk setiap rombongan belajar. Rombongan belajar adalah satuan jumlah siswa, untuk SD maksimal 28 siswa, SMP 32 siswa dan SMA 36 siswa. Karena itu, jika ada sekolah yang menerima 10 rombongan belajar, maka sekolah itu wajib menerima hingga maksimal 20 siswa difabel. Hanya saja, menurut Baskara Aji, ada syarat yang harus dipenuhi kepada siswa difabel untuk bisa masuk sekolah reguler.

“Syarat untuk siswa berkebutuhan khusus adalah ada rekomendasi dari psikolog resmi, yang mengeluarkan surat keterangan, bahwa anak itu berkebutuhan khusus dan sanggup atau siap untuk mengikuti proses pembelajaran di sekolah reguler,” kata Baskara Aji.

Penerapan syarat itu, tambah Baskara Aji, untuk kepentingan siswa difabel sendiri. Pengalaman sebelumnya, banyak orang tua siswa difabel memaksakan anaknya masuk sekolah reguler padahal tidak siap mengikuti pembelajaran di sana. “Ini justru akan merugikan anak bersangkutan, karena anak itu sebaiknya direkomendasikan masuk ke SLB (Sekolah Luar Biasa),” tambah Baskara Aji.

 

Baca Juga :

 

 

Perguruan Tinggi Negeri di Virginia Bekukan Kenaikan Biaya Kuliah Tahun Depan

Perguruan Tinggi Negeri di Virginia Bekukan Kenaikan Biaya Kuliah Tahun Depan

Perguruan Tinggi Negeri di Virginia Bekukan Kenaikan Biaya Kuliah Tahun Depan

Perguruan Tinggi Negeri di Virginia Bekukan Kenaikan Biaya Kuliah Tahun Depan

Perguruan tinggi negeri di Virginia membekukan kenaikan biaya kuliah

untuk tahun ajaran mendatang untuk pertama kalinya dalam hampir 20 tahun.

Harian Richmond Times-Dispatch melaporkan bahwa Longwood University baru-baru ini menjadi universitas terakhir yang menyetujui pembekuan kenaikan biaya kuliah itu.

Kongres negara bagian mengalokasikan $57,5 juta

dalam anggaran Virginia tahun ini untuk dihibahkan kepada perguruan tinggi yang setuju untuk membekukan kenaikan biaya kuliah. Tawaran tersebut diterima baik oleh seluruh perguruan tinggi di negara bagian itu. Dana tersebut akan dipakai untuk meringankan biaya pendidikan bagi mahasiswa dari negara bagian Virginia.

Namun, enam perguruan tinggi juga membekukan biaya pendidikan bagi mahasiswa

yang berasal dari luar negara bagian itu. Keenam perguruan tinggi tersebut adalah Christopher Newport University, George Mason University, Norfolk State University, Virginia Military Institute, Virginia Commonwealth University dan Radford University.

Ekonomi negara bagian yang lebih kuat dari perkiraan semula telah memungkinkan Kongres Virginia mengalokasikan ratusan juta dolar dana tambahan untuk anggaran belanja tahun ini

 

Sumber :

https://www.behance.net/ojelhtcman4fb2

Program ‘Nenek Asuh’, Manfaatkan Lansia Bantu Anak-anak dan Remaja

Program ‘Nenek Asuh’, Manfaatkan Lansia Bantu Anak-anak dan Remaja

Program 'Nenek Asuh', Manfaatkan Lansia Bantu Anak-anak dan Remaja

Program ‘Nenek Asuh’, Manfaatkan Lansia Bantu Anak-anak dan Remaja

Membantu anak-anak menyelesaikan pekerjaan rumah, bermain dengan balita,

memberikan nasihat bijak atau sekedar mendengarkan pernyataan lansia adalah hal-hal yang banyak dilakukan kakek-nenek setiap hari.

The Foster Grandparent Program telah menggunakan sukarelawan yang berusia di atas 55 tahun untuk membantu anak-anak dan remaja di komunitas mereka selama puluhan tahun. Program ini membantu 20.000 lansia untuk tetap aktif dan membuat anak-anak merasa dicintai ketika kakek-nenek mereka sendiri tidak berada di dekat mereka.

“Ketika bangun di pagi hari, saya selalu punya tempat yang harus saya datangi sehari-hari, dan bekerja dengan anak-anak.”

Sandra Wood datang ke sekolah untuk membantu anak-anak. Nenek berusia 72 tahun itu telah menjadi “foster grandmother” atau “nenek asuh” selama sepuluh tahun.

“Selamat pagi teman-teman,” kata Sandra.

Sandra Woods membuat sarapan bagi anak-anak. Sementara di sekolah lain, seorang teman Sarah, Ronald Lewis, bekerja dengan kelompok anak-anak lainnya.

“Saya datang pada pagi hari supaya dapat bertemu dengan teman-teman ini di pintu depan, menyambut mereka dengan jabat tangan atau pelukan,” kata Ronald Lewis.

 

Sebagai seorang kakek, Lewis berusaha memastikan agar anak-anak menjadi santun.

“Kebanyakan anak yang saya temui sangat bersemangat. Memiliki banyak energi. Jadi saya berupaya membuat mereka lebih kalem,” tambahnya.

Ronald Lewis dan Sarah Hood adalah bagian dari Foster Grandparents Program. Relawan berusia sedikitnya 55 tahun atau lebih dan memenuhi pedoman pendapatan tertentu, mengisi formulir secara online, lulus uji fisik dan mengikuti pelatihan selama satu minggu.

Direktur Foster Grandparents Progam Cheryl Christmas mengatakan, “Begitu banyak warga lansia yang datang dengan keinginan tulus untuk melayani, tetapi mereka belum pernah bekerja sebagai guru sebelumnya. Belum pernah mengikuti sistem sekolah disini. Jadi ada tiga hal utama yang ingin kami capai dalam pelatihan yang kami lakukan. Pertama, membuat mereka terbiasa dengan konsep dan kosa kata baru yang terkait dengan pendidikan. Dua, kita ingin membuat mereka mengkaji atau mengubah sebagian gagasan lama tentang bagaimana anak-anak belajar. Ketiga, kami ingin mensimulasikan lingkungan di mana mereka merasa bahwa mereka lah yang bersekolah.”

Kakek-nenek asuh ini ditugaskan di suatu sekolah, yang umumnya dekat dengan rumah mereka.

Guru-guru biasanya sangat menghargai bantuan mereka.

Guru SD Anne Beers, Constance Fernandez mengatakan, “Saya bahkan tidak dapat mengatakannya dengan kata-kata. Mereka seperti tangan kanan saya yang sudah melakukan sesuatu yang bahkan belum sempat saya pikirkan. Mereka selalu berada disini. Mereka sangat membantu anak-anak.”

Anak-anak juga menyukai program ini. Bagi mereka, kakek-nenek asuh ini adalah teman yang dapat diandalkan.

Azeya Parker mengatakan, “Dia kakek saya di sekolah. Kakek-nenek saya tidak pernah datang ke sekolah, jadi saya pikir enak juga jika ada kakek lain yang menemani saya di sekolah.”

The Foster Grandparents Program ini dijalankan oleh para sukarelawan dan mendapat sedikit gaji, makan siang dan penggantian ongkos perjalanan. Ada 22.000 lansia yang bekerja menjadi kakek-nenek asuh di seluruh Amerika. Di Washington DC saja ada lebih dari 200 yang sudah aktif, sementara 100 lainnya baru saja mendaftar untuk dapat bergabung.

 

Sumber :

https://forums.adobe.com/people/danuaji88

kompetensi Guru

kompetensi Guru

kompetensi Guru

kompetensi Guru

Dalam dunia pendidikan peran guru sangat penting

untuk mencapau tujuan dari sebuah pendidikan. Meskipun guru bukan sentral dari semua proses pembelajaran, namun guru adalah mediator yang paling efektif untuk mentransfer sejumlah pengetahuan kepada perserta didik, supaya peserta didik mampu memahami potensi diri dan mengoptimalkannya. Dari hal tersebut tentunya perlu sebuah konsekuensi dari masing-masing guru, untuk memiliki kemampuan yang memadai untuk menjadi sorang pendidik yang kompeten. Jadi sayarat menjadi seorang guru, bukan hanya ditentukan oleh ijazah atau lisensi profesioanal yang Ia peroleh dari lembaga pendidikan.

Mengingat pentingnya peran seorang guru, maka ada beberapa komponen kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dalam tulisan ini akan di sampaikan beberapa kompetensi guru, yang harus di miliki dalam melakukan proses belajar dan pembelajaran. Kompetensi-kompetensi tersebut antara lainsebagai berikut:

 

1.      Menguasai materi/bahan pelajaran

Menguasai bahan pelajaran adalah kewajiban dan tuntutan yang harus di penuhi oleh seorang guru. Dengan mamahami bahan ajar dengan baik, maka guru akan lebih mudah menyampaikan informasi tersebut kepada para siswa dan mampu mengembangkan sejumlah materi dengan keadaan yang nyata di alami oleh siswa. Mungkin masih banyak guru yang dalam mengajar selalau menggunakan teks book. Hal ini bukannya di larang tapi kalau selalau seperti ini, maka kredibilitas seorang guru, akan sediki berkurang di mata siswa. Untuk menghindari hal ini sebaiknya guru, mempelajari bahan ajar jauh-jauh hari sebelum melakukan proses pembelajaran, kalaupun kita harus menggnakan buku, itu hanya pada hal-hal tertentu saja.

 

2.      Mampu mengelola progam belajar mengajar

Mengelola program belajar mengajar di lakukan dari sebalum proses belajar mengajar di lakukan, proses belajar dan tahapan pra belajar. Pada tahap sebelum proses belajar mengajar seorang guru paling tidak harus mampu menyusun tujuan instruksional/pembelajaran, merencanakan proses pembelajaran (RPP,  Satlan). Kemudain pada tahap proses pembelajaran guru harus menyiapkan segala bahan materi, dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Sedangkan pada tahap selanjutnya guru harus mampu menyusun alat evaluasi yang sudah disesuaikan dengan tujuan intruksional dan metode pembelajaran yang di gunakan. Ketiga hal tersebut sangat penting, karena ketiganya saling terkait satu sama lain.

 

3.      Mengelola keadaan kelas

Mengelola keadaan kelas di butuhkan kemampuan dan ketrampilan tersendiri dari masing-masing guru. Mengelola keadaan kelas di artikan bahwa guru harus mampu menciptakan keadaan yang kondusif dan inspiratif di dalam kelas. Hal yang terkait dengan ini adalah bagaiamana guru mengatur setting kelas, suasana, dan kemampuan melibatkan siswaa secara aktif di dalam kelas, mampu mengenali potensi siswa serta mengarahkannya secara tepat untuk tercapainya proses pembelajaran yang efektif.

 

4.      Mampu menggunakan media pembelajaran

Di zaman modern seperti sekarang ini, menuntut penyesuaian dalam segala hal supaya hasil yang di harapkan dari tindakan yang di lakukan sesuai dengan tuntutan zaman. Termasuk juga dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran ini bermacam-macam dari yang klasik sampai yang modern. Supaya mampu menggunakan media pembelajaran ini, sebaiknya seorang guru mampu memadukan secara baik penggunaan media pembelajaran klasik dan modern.

Baca Juga : 

Klasifikasi dan tipe kejahatan remaja

Klasifikasi dan tipe kejahatan remaja

Klasifikasi dan tipe kejahatan remaja

Klasifikasi dan tipe kejahatan remaja

Menurut Kartini Kartono (2011) ada empat tipe klasifikasi dan kejahatan remaja di pandang dari struktur kepribadian. Diantaranya tipe-tipe tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:

Delinkuensi Terisolir

Perbuatan kejahatan ini biasanya di dorng oleh faktor berikut:

  • Kejahatan ini lebih banyak di dorong oleh keinginan meniru, ingin conform dengan norma gangnya.
  • Mereka kebanyakan berasal dari daerah-daerah kota yang transisional sifatnya yang memiliki cultural criminal
  • Biasanya anak tipe ini berasal dari keluarga berantakan, tidak harmonis, tidak konsekuen dan mengalami banyak frustasi
  • Karena keluarga yang tdai harmonis mengakibatkan anak keluar dan memuaskan semua kebutuhan dasanya di tengah anak-anak criminal
  • Kurang mendapat supervise dan disiplin yang teratur di lingkungan keluarga


Delinkuensi Neurotik

Pada umunya anak-anak delinkuensi tipe ini menderita gangguan jiwa yang cukup serius. Ciri tingkah laku mereka antara lain:

  • Bersumber pada sebab-sebab psikologis yang sangat dalam
  • Tingkah laku criminal mereka merupakan ekspresi dari konflik batin yang belum terselesaikan
  • Bianya melakukan kejahatan seorang diri, dan mempraktikkan jenis kejahatan tertentu
  • Memiliki ego yang lemah dan cenderung untuk mengisolir diri
  • Motivasi kejahatan mereka berbeda-beda, tergantung dorongan nafsu dari masing-masing orang
  • Perilakunya melibatkan kualitas kompulsif

Delinkuensi Psikopatik

Tipe ini biasanya sedikit jumlahnya. Adapaun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  • Hampir sebagian besar anak tipe ini berasal dan di besarkan dalam lingkungan keluarga yang ekstrim, brutal, diliputi banyak pertikaian keluarga, berdisiplin keras namn tidak konsisten, dan selalu menyia-nyiakan anaknya.
  • Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa atau melakukan pelanggaran
  • Bentuk kejahatannya majemuk, tergantung pada suasana hatinya yang kacau tidak dapat diduga-duga
  • Mereka selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan norma-norma sosial yang berlaku
  • Acapkali mereka juga menderita gangguan neurlogis, sehingga mengarangi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri.

Delenkuensi Defek Moral

  1. Defek (defect, defectus) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera, cacat, kurang. Delekuensi defek moral mempunyai ciri-ciri:
  • selalu melakukan tindakan a-sosial atau anti-sosial, walaupun dalam dirinya tidak terdapat penympangan dan gangguan kognitif, namun ada disfungsi pada integensinya.
  • Mereka tidak mampu mengenal dan memahami tingakh lakunya yang jahat
  • Selalu saja mereka ingin melakukan perilaku kejahatan
  • Sikapnya dingin dan beku
  • Tidak memiliki rasa harga diri
  • Selalu bersikap bermusuhan dengan siapapun juga

Sumber : https://uberant.com/article/556687-definition-of-text-review-and-examples/

Pendekatan Konseling Behavioristik

Pendekatan Konseling Behavioristik

Pendekatan Konseling Behavioristik

Pendekatan Konseling Behavioristik

Manusia adalah

makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh lingkungan atau faktor-faktor dari luar. Manusia member kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini memberikan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.

Dalam pandangan behavioral, kepribadian manusia itu hakikatnya adalah perilaku. Perilaku di bantuk berdasarkan hasil dari segenap pengalamannya berupa interaksi antara individu individu dengan lingkungan sekitarnya. Tidak ada manusia yang sama, karena kenyataannya manusia memiliki pengalaman yang berbeda dalam kehidupannnya (Latipun, 2010).

Konsep Dasar Konseling Behavioristik

George & Cristiani (dalam Latipun, 2010: 88) menyatakan bahwa konseling behavioristik dalam menjalankan fungsinya berdasarkan atas asumsi-asumsi berikut:

1)      Memandang manusia secara intrinsik bukan sebagai baik atau buruk, tetapi sebagai hasil dari pengalaman yang memiliki potensi untuk segala jenis perilaku

2)      Manusia mampu untuk mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya

3)      Manusia mampu mendapatkan perilaku baru

4)      Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi orang lain.

Pernyataan tersebut serupa seperti apa yang di sampaikan Winkel & Hastuti (2004: 420) bahwa konseling behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis yaitu:

1)      Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku  baik atau buruk, tepat atau salah.

2)      Manusia mampu bereflesi atas tingkah lakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri

3)      Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkah laku yang baru melalui proses belajar

4)      Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinyapun dipengaruhi oleh orang lain.

 

Perilaku Bermasalah

Perilaku yang bermasalah dalam pandangan behavioristik dapat dimaknakan sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Artinya bahwa perilaku individu itumeskipun secara sosial tidak tepat, dalam beberapa saat memperoleh ganjaran dari pihak tertentu. Dari cara demikian akhirnya perilaku yang tidak diharapkan secara sosial atau perilaku yang tidak tpat itu menguat pada individu (Latipun, 2010)

Akhmad Sudrajat  menjelaskan secara sebagai berikut:

1)      Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat, yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.

2)      Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah.

3)      Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat.

4)      Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar

 

Tujuan Konseling

Tujuan konseling behavioristik adalah untuk membantu klien membuang rspon-respon yang lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon baru yang lebih sehat (Willis, 2010). Terapi ini menurut Corey (dalam Latipun, 2010) di tandai oleh:

1)      Berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik

2)      Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik

3)      Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai masalah klien

4)      Penaksiran objektif atas tujuan terapeutik.

Sedangkan Corey (2003: 204) menyatakan bahwa tujuan konseling behavioristik adalah sebagai berikut:

1)      Membantu klien untuk lebih asertif dan mengeksprsikan pikiran dan hasratnya dalam situasi yang membangkitkan tingkah laku asertif

2)      Membantu klien dalam menghapus ketakutan-ketakutan yang tidak realistis yang menghambat diri klien dan keterlibatan dalam peristiwa sosial

3)      Membantu klien dalam menghapus konflik batin yang menghambat klien dari putusan-putusan yang penting dalam kehidupannya.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari konseling bahavioristik adalah membantu konseli dalam mencapai kehidupan tanpa mengalami kesulitan-kesulitan, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang atau mengalami konflik dalam masalah sosial.

 

Peranan Konselor

Konselor bahavioristik memilki peran yang sangat penting dalam membantu klien. Wolpe (dalam Latipun, 2010) mengemukakan peran yang harus dilakukan konselor, yaitu bersikap menerima, mencoba memahami klien dan apa yang dikemukakan tanpa menilai atau mengkritik.

Dalam hal ini menciptakan iklim baik dalah sangat penting untuk mempermudah melakukan modofikasi perilaku. Konselor lebih berperan sebagai guru yang membantu klien melakukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah, tujuan yang hendak dicapai (Latipun, 2010).

Sedangkan Corey (2003: 205) menjelaskan bahwa konselor behavior memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni konselor menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan-pemecahan bagi masalah klien.

Sumber : https://insightmaker.com/article/170742/How-To-Prevent-Air-And-Soil-Pollution

Kekuasaan dan Praktek Monopoli VOC di Nusantara

Kekuasaan dan Praktek Monopoli  VOC di Nusantara

Kekuasaan dan Praktek Monopoli VOC di Nusantara

 

VOC yang didirikan  20 Maret 1602

mempunyai tujuan yaitu (a), mengindari persaingan diantara pedagang belanda sendiri (b), menyaingi pedagang – pedagang lain (c), memperkuat posisi sehingga dapat melaksanakan monopoli perdagangan  rempah – rempah  dan membantu Belanda dalam bidang keuangan. Untuk  mengawasi pelaksanaan monopoli perdagang  pemerintah Hindia Belanda  menunjuk seorang Gubenur jenderal yaitu Pieter Both, tahun 1603 digantikan oleh Jan Pieterzoon Coen.

 

Pemerintah Belanda memberi hak oktroi kepada VOC

 yang meliputi : hak mopoli perdagang rempah – rempah, hak untuk memeliahara angkatan perang, hak untuk memerintah wilayah yang diduduki, hak untuk mencetak uang, hak untuk melakukan perjanjian – perjanjian dengan raja – raja di nusantara, hak untuk membantu keuangan pemerintah Hindia Belanda.

Dalam waktu yang singkat VOC berkembang pesat  seelah berhasil mendapatkan daerah pengahasil rempah – rempah yaitu Maluku, VOC memusatkan kedudukan di Ambon, VOC kerja sama dengan sulatan Baabullah untuk mengusir Portugis dari Maluku  dan menjadikan Ambon sebagai pusat kedudukan. VOC berusaha menguasai perdagangan diseluruh Maluku dan melaksanakan monopoli perdagangan  rempah – rempah.

 

Upaya – upaya yang dilakukan oleh VOC

dalam menguasai perdangangan : monopoli perdagangan yang sangat merugikan  rakyat, Hongi Tochten ( pelayaran hongi)  pelayaran menyusuri pantai yang dilengkapi dengan  angkatan perang untuk mengawasi  para pedagan Maluku  agar tidak menjual rempah – rempahnya selain VOC,Ekstiparsi  yaitu menebang tanaman rempah – rempah milik penduduk  supaya produksi rempah – rempah tidak berlebihan,  Contigenten yaitu rakyat diwajibkan mmbayar pajak berupa hasil bumi,  Leverentie yaitu rakyat wajb menyerahkan pajak berupa hasil bumi didaerah yang tidak dikuasai VOC, Preanger Stesel yaitu kewajiban bagi rakyat untuk menanam  kopi didaerah pariangan , hasil kopinya nanti dibeli dengan harga yang telah didtetukan oleh VOC

Di Maluku, VOC berusaha mengusai perdagangan dan memonopoli hal ini disebabkan Maluku penghasil rempah – rempah di nusantara  komoditi ekspor yang terpenting pada masa itu.  Di kepulauan Ambon masyarakat mendapat hak atas tanah untuk perkebunan cengkeh dan hasil cengekh dijual kepada VOC dengan harga tertentu sedangkan tanah pusaka hasil alam dipakai oleh keluarga dan juga VOC mengembang sistem pemerintahan desa  serta pendidikan desa namun disamping itu VOC timbul kepincangan2 sistem “ ekspedisi Hongi” ekspedisi  yang terdiri dari perahu kora2 ini dimiliki oleh negeri masing – maisng kepulauan ambon untuk mengawasi pulau Seram, buru dan manipa yang dilarang mengahsilkan cengkeh dan setiap cengkeh dipulau itu ditebang  oleh VOC da di angkut dengan kora – kora tersebut. VOC menjual cengkeh dengan harga yang sangat tingggi sehingga menguntungkan bagi Belanda. Dengan ini VOC mendapatkan keutungan yang sangat besar si Maluku  namun masih ada usaha masyarakat untuk menyelundupkan  dan melangat peraturan yang dibuat VOC , dalam rangka menguasai membasmi penyelendupan VOC membuang, mengusir dan membantai penduudk pulau Banda tahun 1620  dan berusaha menganti mereka dengan orang Belanda yang memperkejakan kaum budak

 

Perubahan penting terjadi sejak tahun 1677,

ketika VOC menerapkan sebuah sistem eksploitasi yang khusus berlaku di Sunda, khususnya Priangan, yang dikenal dengan istilah Preanger Stelsel. Sistem ini dipahami sebagai sebuah sistem dimana rakyat Priangan diwajibkan menanam kopi dalam jumlah tertentu, sebagai kompensasi dari pembebasan membayar pajak dalam bentuk uang, rakyat Priangan diwajibkan menyetor kopi dalam jumlah tertentu, rakyat Priangan pun hanya bisa menjual kopi kepada VOC dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Penerapan sistem ini sangat menguntungkan VOC, yang pada gilirannya berdampak positif bagi surplus perekonomian pemerintah Belanda. Produksi kopi dari Priangan sangat berpengaruh penting bagi produksi kopi dunia.  Produksi kopi Priangan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Jika dibandingkan dengan keresidenan-keresidenan lain di Pulau Jawa, produksi kopi Priangan adalah yang paling tinggi

Baca Juga :